Share

Bupati Bojonegoro Apresiasi Demo Mahasiswa PMII

Bojonegoro (Media Center) – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, mengapresiasi demonstrasi 25 mahasiswa dari PMII dalam rangka memperingati Hari Tani nasional, Jumat (27/9). Namun, apa yang disampaikan memang benar jika dilihat melalui sisi penglihatan dan perasaan saja.

“Cuma kalau diturunkan menjadi kebijakan pasti tahapannya akan menjadi sangat panjang,” kata Bupati Suyoto.

Pria berkacamata minus ini menyampaikan, apabila menginginkan para petani sejahtera harus bijaksana dalam pengelolaan air.

” Kita ingin menangkap dua sumber mata air,” ujarnya.

Sumber mata air tersebut diantaranya air dari langit sebanyak 1,4 miliar kubik dan air dari sungai Bengawan Solo yang mendapatkan limpahan air dari 16 kabupaten lain. Apalagi dengan kondisi Bojonegoro yang 30 juta tahun lalu adalah laut, sehingga kondisi alamnya menjadi ekstrim luar biasa.

“Begitu hujan banjir, kemarau tiba ya kekeringan,” tambahnya.

Karena itu , yang diperlukan saat ini adalah menangkap air sebanyak-banyaknya. Cara menangkap air itu salah satunya dengan membuat waduk.

“Oleh karena itu, kita membuat waduk Gongseng sekarang ini mati-matian,” tandasnya.

Dahulu, Belanda membuat solo valley dengan bagus. Namun, sekarang tidak ada yang berani meneruskan karena harus menelan biaya triliunan rupiah.

Sementara untuk kebijakan embung, secara rasional apapun tentang embung sekarang ini benar. Pemkab dan DPRD tidak menutup mata dengan kondisi embung yang mengering.

“Saya sudah meminta evaluasi pengerjaan embung, kalau perlu ditindak saja jika ada pelanggaran,” tukasnya.

Tapi, jika melihat ada embung yang kering sekarang ini bukan berarti tidak ada manfaatnya sama sekali. Karena, fungsi embung itu bukan hanya untuk menampung air tapi juga bagaimana menampung air dan memasukkan dibawah tanah.

“Dengan adanya embung yang kering, disekitarnya ada sumur yang masih memancarkan air,” tandasnya.

Kang Yoto, sapaan akrabnya, meminta mahasiswa dari PMII ini harus objektif dan ilmiah. Karena, saat ini tim dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk melakukan kajian ulang dan evaluasi.(dwi/*mcb)

Leave a Comment