Share

Tabuhan Lesung Iringi Festival Belimbing Bojonegoro

Pada saat akan memasuki lokasi Belimbing, lanjut dia, rombongan pengiring dan pembawa tumpeng raksasa itu akan disambut dengan tabuhan lesung dari sejumlah perempuan berpakain kemben. Tabuhan lesung ini, kata Suwoto, merupakan simbol kesejahteraan petani pada zaman dulu saat memasuki masa panen.

Bojonegoro (Media Center) – Masyarakat Bojonegoro tak boleh melewatkan Festival Belimbing yang dipusatkan di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, yang akan digelar 1 Nopember 2014 mendatang. Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro ini pertama kalinya dan akan menampilkan banyak hiburan yang dikemas dengan adat Jawa.

Menurut Kepala Dusun Mejayen, Desa Ngringinrejo, yang juga salah satu panitia Festival Belimbing, dalam perhelatan itu semua petani belimbing akan menggunakan pakaian adat Jawa tempo dulu. Yakni bagi wanita akan menggunakan kemben dan yang pria menggunakan celana hitam komprang. Mereka akan mengarak tumpeng raksasa yang dibawa dari Balai Desa Ngringinrejo menuju kebun belimbing yang berjarak sekitar satu kilo meter.

“Tumpeng itu berisi belimbing dan hasil bumi warga Ngringinrejo,” kata Suwoto saat ditemui di Balai Desa Ngringinrejo.

Pada saat akan memasuki lokasi Belimbing, lanjut dia, rombongan pengiring dan pembawa tumpeng raksasa itu akan disambut dengan tabuhan lesung dari sejumlah perempuan berpakain kemben. Tabuhan lesung ini, kata Suwoto, merupakan simbol kesejahteraan petani pada zaman dulu saat memasuki masa panen.

Ia melanjutkan, sebelum tumpeng raksasa di bawa masuk, para pengiring, tamu undangan dan masyarakat akan disuguhi dengan reog jaranan dan genderuwonan asli Ngringinrejo yang dikemas dalam bentuk kolosal dengan melibatkan 30 orang. “Setelah itu pengiring tumpeng raksasa bersama Bapak Bupati dan rombongan masuk ke dalam lokasi kebun belimbing,” terangnya.

Setelah memasuki kebun belimbing, lanjut dia, akan dilakukan ritual yang dipimpin oleh Mbah Nur, seorang tokoh masyarakat desa setempat sekaligus petani pertama yang menanam belimbing pada tahun 1984. Bagi petani belimbing Ngringinrejo, Mbah Nur dikenal sebagai guru mereka. Karena Mbah Nur yang mengajari mereka bagaimana cara menanam belimbing hingga berhasil seperti sekarang ini.

“Karena itu, dalam ritual itu nantinya para petani wanita diwajibkan membawa janur yang kemudian diikatkan pada pohon belimbing mereka. Tujuannya agar pohon belimbing mereka bisa memberikan berkah,” kata Suwoto.

Ia berharap, dengan Festival Belimbing ini dapat lebih mengenalkan potensi belimbing Ngringinrejo kepada masyarakat luas. Sehingga wisata belimbing menjadi salah satu tempat tujuan kunjungan masyarakat dari dalam dan luar Bojonegoro.

“Selain itu dengan kemasan adat Jawa ini kita harapkan masyarakat dan generasi muda bisa ikut menjaga dan melestarikan budaya,” pungkas Suwoto.(**numcb)

Leave a Comment