Share

Tagih Tunggakan PT HK, Kontraktor Lokal Blokir Fly Over

Bojonegoro, 10/3 (Media Center) – Sejumlah kontraktor lokal Bojonegoro, Jawa Timur, menlakukan aksi menutup akses jalan masuk jembatan layang (fly over) di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Jumat (10/3).

Aksi blokade menuju lokasi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu ini dilakukan dengan cara menutup badan jalan dengan memarkir dua unit mobil tepat ditengah jalan masuk fly over. Kedua kendaraan ini langsung disopiri Direktur Utama beberapa CV yang hingga kini belum dilunasi pembayaran proyeknya oleh PT Hutama Karya (HK).

Para kontraktor yang menggelar aksi ini merupakan subkontraktor dari PT Hutama Karya (HK) yang mengerjakan proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement and Construction/EPC) – 5 Banyuurip.

“Kami ingin meminta hak kami. Karena sampai sekarang kekurangan tagihan pekerjaan belum juga dibayar HK,” tegas Direktur PT Jawa Ekspres, Hadi.

Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan. Ada sekira 20 aparat dari Direktorat Pengamanan Obyek Vital (Dit Pam Obvit) Polda Jatim, Polsek Gayam, Polres Bojonegoro, dan security EMCL.

Berdasarkan penuturan para pengunjuk rasa ini, tagihan yang belum dibayar PT HK sebesar Rp 2,9 milyar. Tagihan tersebut merupakan pekerjaan tahun 2013 hingga 2016 lalu. Namun hingga pekerjaan sudah selesai dikerjakan kontraktor lokal, PT HK belum juga membayarnya.

Kekurangan tagihan Rp2,9 miliar yang belum dibayarkan PT HK tersebut untuk beberapa kontraktor lokal. Tak kurang ada sembilan CV yang masih belum dilunasi pembayarannya. Diantaranya adalah Rinciannya, CV. Maharani sebesar Rp238.287.000, CV. Yogi Putra Rp329.800.000, CVJawa Ekspress Rp1.519.507.030, CV. Dwi Jaya Rp1,2 miliar serta beberapa CV lainnya.

“Terpaksa kami melakukan aksi karena sampai hari ini belum ada kejelasan dari HK,” timpal Jaswadi, Direktur Utama CV Candra Karisma.

Sebenarnya, lanjut Jaswadi, pada pertemuan Senin (6/3) lalu, kontraktor lokal telah memberi waktu kepada PT HK untuk membayar kekurangan tagihan tersebut pada Kamis (9/3/2017) kemarin. Namun hingga hari tagihan itu belum juga dibayar.

“Totalnya dulu Rp21 miliar lebih, kemudian dibayar Rp21 miliar. Sehingga kekurangannya masih itu,” sambung Site Manager PT Bumi Sentoso Dwi Agung, Suharno yang ikut bergabung dengan kontraktor lokal.

Setelah melakukan negoisasi dengan petugas aparat keamanan, perwakilan kontraktor lokal yang melakukan aksi akhirnya menemui perwakilan EMCL di kantornya. Mereka akan dipertemukan dengan perwakilan EMCL, Rexy Mawardijaya.(dwi/mcb)

Leave a Comment