Share

Tekan Kerugian Akibat Banjir dengan Desa Tangguh Bencana

Bojonegoro, 29/1/2019 (Media Center) – Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Jawa Timur, Eko Susanto mengatakan pembentukan desa tangguh bencana banjir Bengawan Solo, sebagai usaha menekan kerugian masyarakat.

Menurut dia, desa yang sudah ditetapkan sebagai desa tangguh bencana, sebagian warganya sudah pernah memperoleh berbagai pelatihan dalam menghadapi bencana banjir luapan Bengawan Solo, mulai pendirian dapur umum, evakuasi, juga menyediakan berbagai kebutuhan lainnya.

“Pembentukan desa tangguh bencana untuk mempersiapkan masyarakat bisa mandiri dalam menghadapi banjir tanpa terganggu ekonominya, ” kata Eko Susanto di Bojonegoro, Senin (29/1/2019).

Ia juga memberikan gambaran kalau terjadi banjir luapan Bengawan Solo bisa dipastikan luapan air akan meredam tanaman padi petani di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo.

Ia menyebutkan, di Bojonegoro sudah ada 11 desa tangguh bencana yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti di Kecamatan Kanor dan Baureno, selain Kalitidu dan Malo yang menjadi langganan banjir luapan Bengawan Solo.

Program desa tangguh bencana yang dilakukan bekerja sama dengan BNPB pertama kali di Desa Pilangsari, Kecamatan Kalitidu, pada 2013.

Selain itu, yang sudah masuk desa tangguh bencana lainnya adalah Desa Kalisari (Kecamatan Baureno), Desa Sarangan (Kecamatan Kanor), dan Desa Tulungagung (Kecamatan Malo).

Pada 2017 ini, lanjut dia, BNPB juga memberikan pelatihan penanganan bencana kepada warga Desa Kedungprimpen dan Gedungarum di Kecamatan Kanor, Desa Mbogo (Kecamatan Kapas), dan Desa Mojo (Kecamatan Kalitidu).

“Ada lima desa di Bojonegoro yang menjadi langganan banjir Bengawan Solo dipersiapkan masuk desa tangguh bencana pada 2019,” ucapnya.

Saat ini, lanjut dia, ketinggian air Bengawan Solo di hilir Jawa Timur, juga hulu Jawa Tengah dalam keadaan aman di bawah siaga banjir.(*mcb)

Leave a Comment