Share

UPT: Bangunan Waduk Pacal Bojonegoro Tidak Terganggu

Bojonegoro (Media Center) – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan bangunan Waduk Pacal di Kecamatan Temayang, tidak terganggu dengan menyusutnya air, disebabkan kemarau.

“Bangunan di Waduk Pacal masih aman. Tidak ada yang mengalami kerusakan, seperti retak-retak atau lainnya, meskipun airnya tinggal sedikit,” kata Kasi Operasi UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom, Senin (7/9).

Ia mengaku tidak tahu berapa jumlah air yang masih tersisa di waduk setempat, sejak pintu pengeluaran ditutup beberapa waktu lalu.

“Ketika ditutup dulu airnya yang tersisa sekitar 800 ribu meter kubik. Tapi, karena panas air yang masih tersisa menguap, sehingga terus berkurang,” ucapnya.

Menurut dia, air yang masih disisakan tampungan Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, untuk pembasahan agar bangunan yang ada, seperti bendungan tidak rusak.

“Air di waduk akan terus berkurang. Semoga sampai musim hujan masih ada yang tersisa, untuk mengamankan bangunan waduk,” tandasnya.

Pantauan kanalbojonegoro.com, air yang masih tersisa ada di beberapa lokasi, selain di sekitar pintu pengeluaran, juga di lokasi lainnya. Di lokasi tengah waduk, yang airnya sudah mengering, dimanfaatkan warga untuk menanam tanaman padi.

Kasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Air Dinas Pengairan Bojonegoro  Dody Sigit Wijaya, menjelaskan jaringan irigasi Waduk Pacal, di Kecamatan Kapas, dimanfaatkan untuk mengalirkan air dari sumber air Buntalan di Desa Buntalan, Kecamatan Kapas.

Air yang mengalir di saluran irigasi, katanya, sekitar 600 liter/detik, untuk resapan sumur-sumur warga di sepanjang aliran irigasinya.

“Kami melarang air di jaringan irigasi Waduk Pacal dimanfaatkan untuk pertanian, sebab untuk resapan sumur penduduk di musim kemarau ini,” ucapnya.

Waduk Pacal yang dibangun Belanda pada 1933, karena faktor usia hanya mampu menampung air hujan sekitar 17 juta meter kubik, yang semula bisa menampung air sebesar 42 juta meter kubik.

Selain mengalami pendangkalan, bangunan pelimpah di waduk setempat, juga rusak disebabkan terjangan banjir bandang.(sa/mcb)

Leave a Comment