Share

Warga Desa Bojonegoro Ikuti Pelatihan Hadapi Banjir

Bojonegoro, 10/8 (Media Center) – Warga tiga desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengikuti pelatihan menghadapi banjir luapan Bengawan Solo yang dilaksanakan Federasi Federasi Palang Merah Internasional bekerja sama dengan Asuransi di Swiss.

Sekretaris PMI Kabupaten Bojonegoro Sukoha Widodo, di Bojonegoro, Rabu (10/8), menjelaskan, peserta yang mengikuti pelatihan yang sudah berjalan sejak dua tahun lalu 30 warga per desa.”Mereka dididik menjadi relawan di desanya masing-masing dalam menghadapi banjir luapan Bengawan Solo,” jelas dia.

Ia menjelaskan tiga desa yaitu Desa Trucuk, Tulungrejo dan Sumbangtimun, di Kecamatan Trucuk itu, dijadikan model dalam menghadapi banjir secara mandiri.

“Program pelatihan berakhir akhir 2016,” tandasnya.

Dalam program itu warga memperoleh pelatihan, mulai mitigasi bencana untuk mengurangi resiko dalam mengahadapi banjir luapan Bengawan Solo sekaligus melakukan langkah-langkah antisipasi sejak awal sebelum terjadi banjir.

“Warga telah melakukan survei di desanya masing-masing, dengan mengambil langkah penanganan sejak dini untuk mengurangi dampak banjir,” tandasnya.

Di Desa Tulungrejo, katanya, warga sudah membangun lokasi pengungsian di tanah lapang dengan ukuran 11X30 meter setinggi dua meter.

Di desa itu warga juga mengamankan tebing Bengawan Solo yang longsor sepanjang 500 meter dengan menancapkan bambu.

“Tujuan adanya bambu untuk mencegah tebing lonsor, bahkan bisa berkembang lagi menjadi daratan,” tandasnya.

Di Desa Trucuk, warga melakukan gerakan penanaman berbagai macam pohon produktif antara lain, jambu kristal 750 pohon, bambu kuning 2.000 pohon, dan aren 500 pohon.

“Di masing-masing desa dilengkapi dengan dua perahu besar yang berfungsi untuk mengevakuasi warga kalau terjadi banjir,” tuturnya.

Yang jelas, katanya, biaya pelaksanaan pelatihan juga penanganan dalam menghadapi banjir itu dibiaya Asusansi Swiss.

“Perkiraan kami dalam pelatihan menghabiskan biaya sekitar Rp750 juta per desa,” ucapnya.

Menurut dia, program pelatihan menghadapi banjir kerja sama Federasi Palang Merah Internasional dan asuransi di swiss itu, juga dilakukan di daerah hulu Bengawan Solo di Wonogiri, Jawa Tengah.

“Di Indonesia ada tiga sungai besar yang dijadikan model menghadapi banjir berbasis masyarakat. Selain di daerah Bengawan Solo, juga di Sungai Ciliwung dan Sungai Ciamis,” ungkapnya. (*/mcb)

Leave a Comment