Share

World Bank Analisis Kebijakan Ekonomi di Bojonegoro

Bojonegoro (Media center) – Keberadaan World Bank di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kali ini sebagai tindak lanjut kerjasama yang dilakukan dengan pemerintah setempat. Yaitu membantu merumuskan kebijakan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Perwakilan dari World Bank, Arvind Nair mengungkapkan, rumusan kebijakan Itu terangkum dalam studi yang dilakukan oleh selama dua bulan ini di Bojonegoro. Sementara untuk hasil finalnya, akan kembali lagi beberapa minggu kedepan sembari meminta masukan dari pemerintah kabupaten.

“Ada beberapa aspek, salah satunya di sektor migas,” ujar Arvind dengan berbahasa Inggris.

Dia mengungkapkan, dalam hal ini World Bank akan membantu Pemkab setempat bagaimana supaya bisa mengelola sektor migas ini dan mendatangkan kebaikan seperti pertumbuhan ekonomi yang bagus dan kesejahteraan masyarakat.

Dia mengungkapkan ada temuan dari World Bank di lapangan, diantaranya melihat performa Bojonegoro dari ekonomi dan kemiskinan yang cukup baik meskipun terjadi ketimpangan. Selanjutnya, bahwa dari sektor minyak dan gas memang berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi di Bojonegoro dalam kurun waktu 5 tahun terkahir.

“Namun sayangnya tidak menciptakan banyak lapangan kerja karena lebih pada padat modal,” imbuhnya.

Dari data di lapangan menunjukkan, untuk lapangan pekerjaan masih banyak di sektor pertanian, dan sektor jasa yaitu perdagangan dan sosial lainnya.

Sementara itu, Bupati Suyoto menegaskan, dengan menggandeng World Bank, maka rencana petroleum fund (dana abadi) bisa segera terwujud. Dan Bojonegoro bisa terhindar dari masalah keuangan. Karena, penunjang terbesar saat ini dari sektor migas, sementara tidak selamanya produksi puncak bisa dinikmati.

“Produksi minyak lambat laun menurun,” ujarnya.

Karena itulah, belanja Bojonegoro harus fokus hanya pada ESDM dan infrasjturuktur yang benar-benar relevan dan menyiapkan dana abadi.

Sebenarnya, kata Kang Yoto, Bojonegoro menyediakan 5 studi yang dipelajari untuk mengatur strategi tersebut. Apakah untuk stabilitasi atau investasi, kelembagaan, mengatur transparansi, intervensi politik terhadap dana abadi, dan mekanisme yang menjaga supaya tidak ada kegagalan di kemudian hari.

“Dengan adanya dana abadi ini, supaya Bojonegoro punya dana berkelanjutan. Jangan sampai hanya pembangunannya ada masa minyak saja,” tandasnya.

Pihaknya mengaku, pengurangan kemiskinan di Bojonegoro bukan dari sektor migas. tetapi di sektor-sektor non migas, itu berarti strategi pembangunan ekonomi Bojonegoro yang berbasis migas, pertanian, jasa dan produksi ada benarnya.(dwi/*mcb)

Leave a Comment