Share

Ada Perlawanan, Razia Gabungan Gagal Tertibkan Penambang Pasir Mekanik

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang terdiri dari Satpol PP, Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), TNI-POLRI, Selasa (3/1/2015).

Bojonegoro (Media Center) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang terdiri dari Satpol PP,  Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), TNI-POLRI, Selasa (3/1/2015).

Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Pemprov Jatim, Meidi Susanto, mengatakan, dalam sidak kali belum ada tindakan hukum bagi penambang pasir mekanik meskipun tindakan para penambang tergolong ilegal dan mengakibatkan kerusakan lingkungan.

“Hari ini kami hanya melakukan pendekatan persuasif ,” ujarnya di kantor Pemkab Bojonegoro usai sidak.

Dia menyampaikan, saat melakukan penertiban tersebut terjadi perlawanan dari para penambang sehingga tidak ada tindakan apapun agar tidak memperuncing suasana. Meskipun begitu, pihaknya akan berkoordinasi lagi dengan Pemkab Bojonegoro untuk menyusun strategi agar para penambang bisa melakukan penambangan pasir secara manual bukan mekanik.

“Kita akan merencanakan bagaimana jalan keluar selanjutnya agar kegiatan penambangan pasir di Bojonegoro ini tidak dilakukan dengan cara mekanik,” tegasnya.

Pihaknya tidak menyangka, saat melakukan penertiban di 20 titik di Desa Malo, Kecamatan Malo tadi pagi , berlangsung ricuh karena ada perlawanan dari semua pekerja. Sehingga butuh pengawalan ketat baik dari Polisi maupun TNI.

“Kita akan tegakkan Perda no 1 Tahun 2005 tentang galian C di sepanjang sungai Bengawan Solo dan Brantas di Jawa Timur, termasuk Bojonegoro,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala BLH Bojonegoro, Tedjo Sukmono, mengatakan, akibat kegiaatan penambangan pasir secara mekanik telah mengancam lingkungan hidup sekitar dan berpotensi menimbulkan bencana.

“Infrastukur jembatan akan rapuh karena pasir di bawahnya terus tergerus, semantara plengsengan disepanjang sungai mulai rusak, itu yang perlu kita waspadai,” pungkasnya. (re/**mcb)

Leave a Comment