Share

AJI Bojonegoro Rayakan Malam Kebebasan Pers

Bojonegoro (Media Center) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro merayakan Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day) dengan menggelar panggung terbuka di halaman Radio Malowopati di Jalan AKBP Soeroko, Kota Bojonegoro, Sabtu (02/05) malam. Perayaan malam kebebasan pers sedunia itu diisi dengan berbagai acara hiburan yang menarik. Di antaranya pementasan teater dan musikalisasi puisi oleh anak-anak Teater Awu dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Bojonegoro, pementasan stand up comedy dari komunitas Stand Up Comedy Bojonegoro, pembacaan puisi dari seniman Sanggar Sayap Jendela, dan pemutaran film sejarah berdirinya AJI Bojonegoro.

Acara malam perayaan kebebasan pers itu dihadiri berbagai eleman masyarakat seperti mahasiswa, jurnalis, seniman, budayawan, hingga pejabat. Bupati Bojonegoro, Suyoto, Kepala Dinas Kominfo, Kusnandaka Tjatur, dan Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Sukur Priyanto, juga hadir malam itu.

AJI Bojonegoro mengusung tema pada hari kebebasan pers kali ini yakni pers yang mencerdaskan. Di sela acara juga ada pembacaan deklarasi dari anggota AJI Bojonegoro menolak amplop serta pembubuhan tanda tangan di atas kanvas.

Menurut Ketua AJI Bojonegoro, Anas Abdul Ghofur, setelah Reformasi pers di Indonesia tumbuh pesat seperti cendawan di musim hujan. Akan tetapi, pertumbuhan pers itu tidak selalu memberi dampak yang baik bagi masyarakat. Sebab, ada banyak media baru yang tumbuh tanpa disertai dengan pengelolaan yang baik dan memberikan gaji yang layak bagi jurnalis dan para pekerja medianya.

“Akibatnya, muncul jurnalis abal-abal yang meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Oleh karena itu, melalui momen hari kebebasan pers sedunia ini AJI Bojonegoro mengajak masyarakat turut serta menjaga kebebasan pers. Selain itu, mendorong perusahaan media agar meningkatkan kemampuan jurnalisnya serta meningkatkan kesejahteraannya.

“Pers tumbuh bersama masyarakat, sekaligus mencerdaskan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu menurut Bupati Bojonegoro, Suyoto, hari kebebasan pers sedunia sebenarnya bukan hanya milik kalangan pers belaka melainkan juga milik masyarakat luas. Menurutnya, kebebasan pers harus digunakan untuk membela masyarakat yang lemah, menyuarakan mereka yang tidak mampu bersuara, serta mencerdaskan masyarakat.

“Pers sekarang sudah berkembang cukup pesat. Namun, pers janganlah terbelenggu dengan kepentingannya sendiri melainkan harus mampu membela kepentingan orang-orang yang lemah yang perlu dibela,” ujar Suyoto.

Ia mengatakan, pers merupakan pilar keempat demokrasi. Kekuatan pers menjadi salah satu penentu sendi-sendiri bernegara di Indonesia. Oleh karena itu, kata dia, pers harus mampu menjadi penyeimbang dan sekaligus kontrol bagi kekuasan lainnya.

“Sekarang ini demokrasi sudah berkembang cukup matang begitu pula kehidupan persnya. Saya percaya pers akan selalu bekerja dan berjalan menuruti hati nuraninya,” ujar Kang Yoto, panggilan akrab Suyoto.

Acara malam perayaan kebebasan pers yang dimulai pukul 19.00 WIB itu berakhir pukul 22.00 WIB. Bupati Suyoto juga diminta menutup acara dan berdoa pada akhir acara perayaan kebebasan pers tersebut.(lya/*mcb)

Leave a Comment