Share

Akses Proyek GOR Kembali Dipermasalahkan

Manager PT SMU Hery Waluyo yang dikonfirmasi terkait penyerobotan tersebut tidak mau menemui, Sueb stafnya di lokasi tidak mau berkomentar. Dia hanya mengatakan saat ini pengerjaan proyek dalam pekerjaan pondasi. Ditempat terpisah Heri Prasetyo pelaksana proyek Dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Bojonegoro membantah adanya penyerobotan tanah oleh mitra kerjanya.

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bojonegoro, Jawa Timur, mengklaim bahwa proyek yang sedang dikerjakan, yakni Gedung Olah Raga (GOR) di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, sama sekali tak bermasalah, yakni terkait tudingan dari seorang warga yang mengaku tanahnya diserobot.

Pada awal bulan Juni lalu, keluarga Suprantomo yang merupakan warga desa setempat melakukan pematokan d akses jalan masuk ke lokasi proyek senilai Rp 28 Miliar tersebut. Akibat aksi protes tersebut, proyek yang sedang dikerjakan oleh PT Sarana Multi Usaha (SMU) sempat terhenti.

Setelah dilakukan pertemuan, akhirnya proyek tersebut dilanjutkan, meskipun patok tanda protes dari keluarga Suprantomo msih menancap di tengah jalan kases menuju lokasi, kini proyek tersebut telah memasuki tahap pengerjaan pondasi.

Jalan masuk yang sempat menimbulkan protes tersebut, bakal dilebarkan, semula hanya 4 meter akan diperlebar menjadi 10 meter. Namun, pelebaran jalan yang tambahannya selebar 6 meter itu diakui menggunakan tanah milik Suprantomo, disebutkan oleh Supranoko, penyerobotan juga dilakukan di tanah milik Maimun dan Kuncoro.

Dikarenakan jalan masuk yang dibutuhkan sepanjang 65 meter. “Ini jelas menyerebot tanah hak milik warga, jangankan izin, sosialisasi pembangunannya juga tidak pernah disampaikan ke kami, “ tegas Supranoko. Padahal tanah yang diserobot untuk tambahan jalan masuk itu resmi milik adiknya. Dia menunjukkan Buku Sertifikat Nomor 3254 luas 2644 M2 Hak Milik Suprantomo, tertulis dalam buku tersebut, penunjuk diterbitkannya berdasarkan D1 301 Nomor 13702/2012, Buku C Nomor 897 Persil No 69 Kelas S.VI dan Akta Pembagian Hak Bersama Noor 115/2012. Penyerobotan itu merusak tanaman padi usia sebulan.

Menurut Supranoko, awalnya saat pembebasan lahan, tanah adiknya tidak dibutuhkan. Tetapi kenyataan dilapangan sekarang berbeda. Dari tanah seluas 2644 M2, tanah yang diserobot oleh kontraktor seluas kurang lebih 256 m2 yang telah bersertifikat dan sebelumnya ditanami pohon-pohonan produktif. “Kini telah diratakan tanpa permisi oleh alat berat milik kontraktor, “ keluhnya.

Manager PT SMU Hery Waluyo yang dikonfirmasi terkait penyerobotan tersebut tidak mau menemui, Sueb stafnya di lokasi tidak mau berkomentar. Dia hanya mengatakan saat ini pengerjaan proyek dalam pekerjaan pondasi. Ditempat terpisah Heri Prasetyo pelaksana proyek Dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Bojonegoro membantah adanya penyerobotan tanah oleh mitra kerjanya.

“Kami terus mengawasi proyek ini dan berjalan lancar semuanya, “ tegasnya. Informasi lainnya keluarga Suprantomo telah melaporkan penyerobotan tanah itu ke Polres Bojonegoro dan dalam waktu dekat akan juga disampaikan gugatan perdatanya ke Pengadilan Negeri Bojonegoro. (*/gufron/mcb)

Leave a Comment