Share

Beras Merah Gundul Matoh, Antioksidan dan Rendah Gula

Selain bebas pestisida, keunggulan beras merah Bojonegoro ini mengandung antioksidan yang tinggi. “Semakin gelap warnanya semakin tinggi antioksidannya,” ujarnya. Beras merah yang dikemas dengan takaran 1 kilogram ini dibanderol dengan harga Rp15.000. Sementara untuk beras merah kemas vakum seharga Rp17.500,-/kg karena lebih tahan lama dibanding kemasan biasa.

Bojonegoro (Media Center) – Sejak 2011 lalu, Muji Utomo, petani asal Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro Jawa Timur ini terus mengembangkan budi daya padi organik. Saat ini, lahan miliknya bersama 20 petani lainnya sedang memasuki masa panen, terutama untuk jenis beras merah.

Menurut Muji Utomo, padi organik ini adalah tanaman sisipan diantara padi-padi konvensional di lahannya. “Belum berani menanam banyak, karena pasar lokal masih memilih beras biasa,” terangnya. Selain itu, hasil panen dari komoditas beras yang cocok untuk diet gula karena paling sedikit kandungan gulanya itu, masih harus menunggu penyesuaian unsur tanahnya.

“Unsur tanahnya harus mengalami proses penyesuaian selama 6 tahun, setelah 6 tahun barulah hasil panennya seperti padi-padi biasa,” jelasnya. Saat ini, Muji Utomo telah membudidayakan padi organik selama 3 tahun dengan hasil panen sekitar 6,5kuintal per 1/4 hektarnya. Saat unsur tanah telah kembali normal, maka hasil panen padi organik akan mencapai 7-8 ton per hektarnya.

Selain bebas pestisida, keunggulan beras merah Bojonegoro ini mengandung antioksidan yang tinggi. “Semakin gelap warnanya semakin tinggi antioksidannya,” ujarnya. Beras merah yang dikemas dengan takaran 1 kilogram ini dibanderol dengan harga Rp15.000. Sementara untuk beras merah kemas vakum seharga Rp17.500,-/kg karena lebih tahan lama dibanding kemasan biasa.

Meski beras merah yang dihasilkan berkualitas prima, namun tak banyak orang yang tahu bahwa Kabupaten Bojonegoro memiliki petani yang khusus memproduksi bahan pangan organik ini. Hal ini lantaran hingga saat ini, pemasaran hasil pertanian organik ini hanya dipasarkan dari mulut ke mulut.

Para petani ini berharap agar pemerintah Kabupaten Bojonegoro memfasilitasi pemasaran produk mereka. Salah satu upayanya adalah dengan secara berkala membuka stand-stand khusus hasil panennya di sejumlah tempat, salah satunya adalah di Jalan Pahlawan, sebelah selatan Alun-alun Kota Bojonegoro, Kamis (26/6/2014).

Di Bojonegoro sendiri, sedikitnya terdapat 21 petani yang membudidayakan padi-padi organik tersebut. Mereka tersebar di Desa Leran, Kecamatan Kalitidu dan Desa Ngunut Dander, dengan total areal budidaya seluas 6,2 hektar. Selain jenis beras merah, juga dikembangkan padi beras hitam, keduanya merupakan jenis padi organik yang tidak mengandung pestisida dan biasanya digunakan sebagai makanan pokok bagi mereka yang sedang menjalankan diet gula. (*/lyamcb)

Leave a Comment