Share

Bupati Bojonegoro Gelar Rapat Bahas Penanganan Banjir

Bojonegoro (Media Centre) – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), Senin, menggelar rapat dengan jajarannya membahas penanganan banjir luapan Bengawan Solo, juga bencana lainnya di daerah setempat.

“Rapat intinya membahas penanganan korban banjir agar lebih maksimal termasuk mengoptimalkan kinerja tim SAR gabungan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Amir Syahid, sebelum rapat dimulai.

Ia menjelaskan kewaspadaan menghadapi banjir luapan Bengawan Solo akan terus ditingkatkan, mulai, penanganan para pengungsi, juga pendistribusian logistik kepada para korban banjir yang mengungsi.

“Pendistribusian bahan makanan baik makanan siap saji, juga berbagai keperluan lainnya bagi pengungsi, seperti selimut, sudah berjalan,” katanya, menegaskan.

Selain itu, lanjutnya, di sejumlah lokasi juga dibangun dapur umum untuk menangani para pengungsi.

Meski luapan sungai terpanjang di Jawa di daerahnya ada kecenderungan menurun, katanya, kewaspadaan tetap dilakukan, mengingat daerah Ndungus, Ngawi, ketinggian air Bengawan Solo kembali naik.

Sesuai data yang diterima, ketinggian air Bengawan Solo di Ndungus, Ngawi, yang semula sudah turun 6,40 meter, naik menjadi 6,50 meter (siaga I), Senin pukul 12.00 WIB.

Di Karangnongko, Kecamatan Ngraho, sekitar 70 kilometer dari Kota Bojonegoro, yang semula sudah turun 26,40 meter juga naik kembali menjadi 26,41 meter.

“Naiknya air Bengawan Solo di daerah hulu disebabkan memperoleh tambahan air dari Lereng Gunung Lawu,” kata Kasi Operasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom.

Sesuai data yang diterima BPBD, banjir luapan sungai terpanjang di Jawa di daerah setempat telah merendam 144 desa yang tersebar di 15 kecamatan. Banjir juga merendam 4.711 rumah, juga merendam areal tanaman padi seluas 4.071 hektare, palawija 482 hektare.
Selain itu, banjir juga merendam berbagai fasilitas umum, mulai gedung lembaga pendidikan, jalan kabupaten, kecamatan, desa dengan perkiraan kerugian mencapai Rp4,7 miliar. (samcb)

Leave a Comment