Share

Dana Abadi Migas Untuk Generasi Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro akan menerima dana bagi hasil minyak dan gas bumi (migas) dan dana penyertaan modal (participating interest) cukup besar seiring dengan dimulainya puncak produksi migas di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang terletak di Kecamatan Gayam. Namun, bila tidak dikelola dengan baik, maka dana yang besar itu akan rawan cepat habis.

Oleh karena itu, Bojonegoro Institute (BI), salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Bojonegoro mengusulkan agar dana yang diperoleh dari sektor migas itu disimpan untuk generasi akan datang. Dana yang disebut dana abadi migas itu tidak boleh diambil untuk keperluan jangka pendek.

“Kalau tidak bijak mengelola dana migas itu, maka Pemkab Bojonegoro hanya akan mewariskan kemiskinan. Sebab, suatu saat migas itu akan habis,” ujar Direktur Bojonegoro Institute, Abdul Wahid Syaiful Huda, saat diskusi bertema Sejarah Minyak Bojonegoro yang diselenggarakan komunitas Langit Tobo di Dusun Korgan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, kemarin.

Sayiful Huda mengatakan, ada dua sumber dana besar yang sekiranya akan dimasukkan seratus persen sebagai dana abadi migas itu yakni penyertaan modal sebesar 25 triliun yang akan diperoleh Pemkab Bojonegoro mulai 2017 dan dana bagi hasil migas senilai Rp3 triliun hingga Rp4 triliun setiap tahun.

Kebijakan dana abadi migas yang digagas Pemkab Bojonegoro ini merupakan inisiatif sebagai inovasi daerah yang harus didukung dan dikawal implementasinya.

“Memang secara yuridis, kebijakan dana abadi migas Kabupaten Bojonegoro sangat mungkin untuk diterapkan meski secara literatur belum ada legislasi nasional atau produk hukum setingkat undang-undang yang mengatur hal tersebut,” lanjut pria yang akrab disapa Awe ini.(Lya/dwi)

Leave a Comment