Share

Data Gerakan Desa Sehat dan Cerdas Divalidkan

‪Media Center (Bojonegoro) – Gerakan Desa Sehat dan Cerdas yang tengah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus dilakukan evaluasi untuk mencapai target yang ditentukan. Salah satunya dengan menggelar rapat koordinasi validasi data GDSC untuk mengetahui perkembangannya setelah data diserahkan kepada masing-masing kecamatan.

Kepala Bagian Sosial Budaya (Sosbud) Bappeda Bojonegoron, Rahmad Junaidi mengatakan, data dari kecamatan ini akan direkap oleh BPMPD dan selanjutkan akan divalidasi dan verifikasi oleh Bagian Sosbud Bappeda sebelum dilaporkan ke Bupati Bojonegoro.

“Karena indikator dan sub-indikatornya banyak sekali, kami juga dibantu oleh teman-teman Bojonegoro Institute dalam memvalidasi dan meneliti, serta nantinya data tersebut akan diolah dalam bentuk peta,” katanya saat rakor dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD), perwakilan kecamatan dan Tim Bojonegoro Institute (BI), di Aula BPMPD, Senin kemarin.

Junaidi menjelaskan, ada beberapa indikator dan form data yang perlu dijelaskan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, sehingga pendata memiliki pemahaman yang sama pada saat melakukan pendataan. Seperti pada form Ibu Melahirkan dan Bayi Lahir.

Menurut Zunaedi, data memiliki peran sangat penting. Karena dari data, dapat merumuskan kebijakan, aktifitas dan output. “Kita juga dapat melihat outcome dan impact suatu program yang sudah kita canangkan,” tegasnya.

Pada kegiatan itu juga, Direktur BI, Aw. Syaiful Huda, menyampilkan, tentang peta data sementara GDSC yang diolah oleh Tim BI.

“Data GDSC ini jika sudah divalidasi dan sudah final, nanti akan kita olah, kita entri ke dalam aplikasi yang sudah kita siapkan. Aplikasi ini akan menampilkan data dalam bentuk peta dan bisa diupload di website, sehingga banyak yang dapat meilihatnya,” sambung Awe usai acara.

Menurut Awe, nama akrabnya, GDSC merupakan program orisinil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dengan sasaran atau indikator yang jelas. Karena itu perlu keseriuan dalam pendataannya.

“Soalnya ingin memulai dengan menentukan titik nol dari dua puluh indikator yang didata. Tapi bagusnya jika ini sukses, kedepannya dari titik nol tersebut, maka dapat dilihat progres atau capaian intervensi program yang dirumuskan oleh Pemkab,” ujar Awe.(wed/dwi)

Leave a Comment