Share

Derita Hydrocepalus, Efendi Tak Mampu Berobat

Muhammad Efendi, seorang anak berusia sembilan tahun di Bojonegoro, menderita penyakit kepala membesar atau hydrocepalus. Kondisi ini diderita olehnya sejak usia tiga bulan dan semakin memprihatinkan. Tak hanya kepala yang semakin membesar, badannya semakin kurus.

Bojonegoro (Media Center) – Muhammad Efendi, seorang anak berusia sembilan tahun di Bojonegoro, menderita penyakit kepala membesar atau hydrocepalus. Kondisi ini diderita olehnya sejak usia tiga bulan dan semakin memprihatinkan. Tak hanya kepala yang semakin membesar, badannya semakin kurus.

Di rumahnya yang berada di Desa Kandangan RT/RW 09/02 Kecamatan Trucuk, Muhamad Efendi, hanya bisa berbaring lemah. Tubuh bocah yang kerap disapa Pendik ini, tak bisa bergerak bebas layaknya anak seusianya karena terlalu berat menopang kepalanya yang semakin membesar.

Sang ibu, Kasri (55), menceritakan jika anak terakhir dari tiga bersaudara ini awalnya lahir normal seperti anak pada umunya. Namun setelah berusia tiga bulan, mulai terlihat keanehan di kepalanya. “Dulu tidak ada tanda-tanda sakit. Tiba-tiba saat usia tiga bulan mulai ada benjolan di kepalanya,” cerita Kasri.

Kasri mengaku, setahun kemudian ia baru membawa anaknya berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bojonegoro. Dari situlah ia mengetahui jika sang bocah menderita penyakit hydrocepalus. “Sebelumnya saya periksakan di bidan daerah sini tapi terus disuruh ke rumah sakit di Bojonegoro,” lanjutnya.

Karena pengobatan di Bojonegoro yang ia rasa tidak bisa mengobati buah hatinya, akhirnya Kasri hanya bisa pasrah merawat bocah malang tersebut di rumahnya yang masih beralaskan tanah. “Kalau dulu biaya berobatnya gratis. Tapi kalau saya bawa ke Surabaya, gimana sama dua anak saya lainnya yang ketika itu masih sekolah,” ucapnya.

Kini korban hanya dirawat dengan kondisi seadanya. Biasanya, jika sang ibu berangkat berjualan sayur setelah shalat subuh, korban ditemani kakak wanitanya. Namun jika kakaknya bekerja di sebuah pabrik, korban ditinggal sendiri di rumah sederhana itu. “Kadang ada tetangga yang sesekali menjenguk kalau di rumah tidak ada orang,” lanjutnya.

Ia hanya bisa pasrah dan berharap uluran tangan dari para dermawan juga Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro untum membantu pengobatan anaknya. (**mcb)

Leave a Comment