Share

Desa Kabalan, Kampung Nelayan Bengawan Solo

Siang itu tiga anak muda duduk dia atas tanggul Sungai Bengawan Solo, mereka melihat kegiatan tetangganya yang sedang menjaring ikan di tengah sungai. Dua pria berusia 40-an tampak sibuk diatas perahunya, mengatur pelampung yang terbuat dari karet sandal diantara jaring-jaring ikan.

Bojonegoro (Media Center) – Siang itu tiga anak muda duduk dia atas tanggul Sungai Bengawan Solo, mereka melihat kegiatan tetangganya yang sedang menjaring ikan di tengah sungai. Dua pria berusia 40-an tampak sibuk diatas perahunya, mengatur pelampung yang terbuat dari karet sandal diantara jaring-jaring ikan.

Karet tersebut berfungsi sebagai tanda dan menahan jaring agar tak tenggelam, sambil melempar senyuman laki laki itu menenggelamkan diri. Tak lama kemudian mereka muncul kembali ke permukaan dan mengatakan bahwa jaring-jaringnya telah siap.

Sekitar 12 perahu lainnya meluncur dari dekat mereka, menuju barat dan timur sungai. Ukuran perahu yang digunakan tidak terlalu besar, panjangnya 7 meter dengan lebar tak sampai satu meter.

Itulah profesi warga Dusun Kendal Desa Kabalan Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur yang hidup tentram sebagai pencari ikan di RT 01, RT 02 dalam RW 01.

Menurut keterangan pamong desa, warga luar desa menyebut profesi pencari ikan di Dusun Kendal sebagai manusia perahu. Namun tak seperti 7 tahun sebelumnya, sejak bencana banjir besar para manusia perahu sudah tak lagi harus berhari-hari tinggal di dalam perahu, mereka berangkat pagi hari dan selalu kembali pad sore harinya.

Pencarian ikan dan penjualan itu dilakukan hingga di Kecamatan Margomulyo dan paling timur di Babat Lamongan. Dulu, penjualan ikan dilakukan berkeliling di desa diantara sungai. “Sudah berubah dan ini faktor kondisi. Utamanya di sungai ada plengsengan bendungannya, karena masing di barat dan ditimur juga ada, selain itu perahu milik warga sudah ada mesinnya yang setiap hari tentunya bisa pulang. Juga ada tengkulak ikan di sini, “ kata Kepala Dusun Kendal Suparman.

Dusun Kendal di Kabalan, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pencari ikan di Bengawan Solo, dari jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 215, yang berprofesi sebagai pencari ikan sebanyak 120 KK.

Suparman melanjutkan, para pencari ikan itu berharap selalu mendapat perhatian dari pemerintah, utamanya dalam hal kucuran bantuan permodalannya.

”Pemkab Bojonegoro maupun Pemprov Jatim membantu untuk kebutuhan mencari ikan disini, ini semua untuk menjaga keberlangsungan hidup warga dusun yang memang memiliki keahlian mencari ikan di Bengawan Solo, “ jelasnya.

Untuk jenis ikan dan harganya bervariasi, Ikan Jambal dan Ikan Bengkik perkilonya mencapai Rp 25 ribu. Dua ikan itu memang mahal, dikarenakan dagingnya menyerupai Ikan Tuna. Untuk Ikan Cendil yang menyerupai Ikan Gabus perkilonya mencapai Rp 22 ribu. Sementara itu, jenis lainnya yang juga disebut dengan nama ikan putihan, harganya relatif lebih murah, diantaranya adalah Ikan Bader yang harga perkilonya hanya berkisar Rp 10 ribu.

Dari sekitar 60 perahu milik warga disana, rata-rata omzet per hari dari para pencari ikan itu adalah antara Rp 200-300ribu. Mereka menjual ikan hasil tangkapannya kepada para tengkulak yang telah menunggu di desa.

“Tapi terkadang ya sepi perolehan ikan, maklum sekarang ini kondisi sungai tidak banyak lagi ikannya. Namun warga disini bersyukur akan adanya sungai yang terpanjang di Pulau Jawa ini. Kegiatan penjualan ikan bisa dilihat sini setiap sore hari, “ imbuh Suparman. (*/guf/mcb)

Leave a Comment