Share

Disperta : Stok Pupuk Cukup Sampai Akhir Tahun

Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Bojonegoro menjamin stok pupuk bersubsidi untuk kebutuhan pertanian hingga akhir tahun bakal tercukupi. Saat ini Kabupaten Bojonegoro telah menerima tambahan stok pupuk bersubsidi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Bojonegoro menjamin stok pupuk bersubsidi untuk kebutuhan pertanian hingga akhir tahun bakal tercukupi. Saat ini Kabupaten Bojonegoro telah menerima tambahan stok pupuk bersubsidi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Menurut Kepala Disperta Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Djupari, kebutuhan pupuk bersubsidi untuk musim tanam kemarau hingga musim hujan (rendengan) mendatang telah disiapkan. “Persediaan pupuk bersubsidi cukup untuk kebutuhan hingga akhir tahun nanti,” ujarnya.

Ia menyebutkan persediaan pupuk bersubsidi jenis urea saat ini mencapai 29.007 ton, pupuk SP 36 sebanyak 9.143 ton, pupuk ZA sebanyak 9.565 ton, pupuk Phonska sebanyak 22.640 ton, dan pupuk petroganik sebanyak 12.496 ton. Persediaan pupuk itu disalurkan melalui kios pupuk resmi yang berada di sejumlah kecamatan di Bojonegoro. Selain itu, distribusi pupuk bersubsidi itu disalurkan melalui kelompok tani yang tersebar di tingkat desa.

Namun, petani di sejumlah desa mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi di kios pupuk resmi maupun di kelompok tani. Sugeng, petani di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, mengaku kesulitan mendapatkan pupuk urea dan pupuk ZA untuk memupuk tanaman jagung yang ada di sawahnya.

“Mencari pupuk urea maupun pupuk ZA sulit sekali. Kalau pun dapat pupuk hanya sedikit dan tidak cukup untuk pemupukan di sawah,” ujarnya.

Harga pupuk urea di tingkat petani saat ini mencapai Rp100.000 per sak. Sedangkan, pupuk ZA seharga Rp80.000 per sak dan pupuk Phonska seharga Rp120.000 per sak.

Selama musim kemarau ini para petani banyak yang memilih menanam palawija di lahan pertaniannya di antaranya jagung, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau. Namun, banyak pula petani yang memilih membiarkan lahan sawahnya tidak tergarap atau bero lantaran tidak ada persediaan air untuk pengairan.(**mcb)

Leave a Comment