Share

DLH Terangkan Penyebab Cuaca Panas di Bojonegoro

Bojonegoro, 15/10 (Media Center) – Musim kemarau di Kabupaten Bojonegoro membuat suhu udara makin meningkat. Terutama di daerah sekitar area penambangan minyak bumi dan gas.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Nurul Azizah. Wanita berjilbab ini mengungkapkan, ada beberapa faktor yang membuat suhu udara di area sekitar penambangan migas lebih tinggi dibanding daerah lainnya di Bojonegoro.  Salah satunya yang paling terlihat, yakni jumlah tanaman yang ada di sekitar wilayah pengeboran minim dan jumlah mobilitas kendaraan tinggi.

“Di Mojodelik, Gayam ini pohonnya sedikit dan padat kendaraan. Kami minta kepada pihak operator untuk ikut berperan dalam penanaman pohon,” terangnya, Sabtu (13/10).

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, suhu udara yang ada di sekitar kawasan pengeboran minyak dan gas bumi (Migas) Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) diatas rata-rata Kabuapten Bojonegoro bahkan Jawa Timur.

Suhu udara di sekitar lapangan migas yang ada di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, itu mencapai 41 derajat celsius, pada Jumat (12/10) sekitar pukul 13.25 WIB. Selain itu, kondisi kelembaban udara juga sangat kering yang berada diangka 17 persen.

Sementara, suhu udara di kawasan kota Bojonegoro pada pukul 13.30 WIB menunjukan angka 39,6 derajat celcius, dengan kelembaban udara 30 persen dan suhu rata-rata di Jawa Timur pada bulan Oktober ini 37-39 derajat celsius.

Menurut prakiraan BMKG, cuaca pada bulan Oktober memang menjadi cuaca terpanas selama satu tahun. Beberapa hal yang mempengaruhi panasnya suhu di Bojonegoro diantaranya, daerah migas, pohon berkurang, dan emisi kendaraan bermotor.

“Pertambahan jumlah penduduk juga mempengaruhi peningkatan suhu karena pertambahan sampah yang berpengaruh pada gas metan, efek pemenuhan kebutuhan hidup, seperti AC dan kulkas juga menyumbang panas,” pungkasnya.(*dwi/lya/mcb)

 

Leave a Comment