Share

Garam Grosok Langka di Bojonegoro, ini Penyebabnya

Bojonegoro, 24/7 (Media Center)- Produksi garam grosok (kasar) di sejumlah tempat di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur, langka dan naik harganya. Menyusul masih seringnya hujan dan panas di musim kemarau yang tak menentu.

Di sejumlah pasar di Bojonegoro, seperti Pasar Besar Kota, Pasar Banjarejo dan Pasar Sumberejo, harga garam grasak naik lebih dari 350 persen. Dari biasanya Rp 1500 perkilogram, kini naik menjadi Rp 5000 hingga Rp 6000 perkilogramnya.

Pedagang di pasar menyebut, suplai garam grosok berasal dari Tuban dan Gresik. “Kini, kirimannya terlambat,” ujar Biarno,52 tahun, pedagang kelontong di Pasar Besar Kota Bojonegoro, pada Kanal.Bojonegoro, Senin 24 Juli 2017.

Dia menyebut, kini sebagian besar pedagang kelontong, tidak menjual garam grosok. Garam non-yodium yang biasanya digunakan untuk bahan baku telur asin itu, jarang didapat. Alasannya, “Ya, kabarnya stoknya jarang,” imbuh Ayah empat anak ini.

Langka dan naiknya harga garam grosok juga membuat perajin telur asin, juga mengeluh. Alasannya, dengan harga garam grasak sekarang para perajin, berencana menaikkan dagangannya. Alasannya, selain bahan telur bebek relatif tinggi, rata-rata Rp 1700 perbutirnya. Harga sekarang telur asin matang Rp 2500 perbutir dari perajin,.akan naik menjadi Rp 2750 perbutirnya.

”Bahan bakunya sudah naik,” tegas Hadi Priyanto, perajin telur asin di Desa Ngumpak Dalem, Bojonegoro.

Selama ini, garam grosok banyak berasal dari Kabupaten Tuban. Lokasi produksinya di sejumlah desa di pantai utara seperti di Kecamatan Palang.

Tepatnya di Desa Pliwetan, Desa Leran Wetan, Desa Cepoko, Desa Ketambul dan sebagian di Desa Palang. Kemudian di Desa Tambakboyo Kecamatan Tambakboyo, dengan lulas lahan sekitar 275 hektare.

Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Tuban, Amenan, produksi garam itu sangat tergantung oleh cuaca. Terutama terik matahari yang stabil guna mengkristalkan air laut. Artinya, jika pada musim kemarau masih sering turun hujan dan juga kerap mendung, maka produksi jelas, terganggu.” Yang terjadi sekarang seperti itu,” ujarnya pada Jumat 21 Juli 2017.

Untuk sekarang ini, lanjut Amenan, petani garam yang menggarap lahannya tidak merata. Contohnya, di beberapa desa di Kecamatan Palang, ada sudah panen garamnya tetapi ada juga yang masih mengosongkan lahannya. Itu karena, pertimbangan musim yang labil.”Dampaknya tentu ke produksi yang mundur,” imbuhnya.

Amenan mencontohkan,untuk data produksi Pekan ke dua bulan Juli 2017, menghasilkan sebanyak 15,800 ton. Sedangkan jumlah petambak di seluruh Tuban, ada 412 orang lebih. Jumlah itu bisa bertambah karena, biasanya petani garam juga merangkap mengelola tambak ikan. (*/mccb)

Leave a Comment