Share

Jumlah RTSM di Desa Ring 1 Migas Masih Tinggi

Bojonegoro (Media Center) – Meskipun data dari Pemkab Bojonegoro menunjukkan jumlah Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Desa Ring 1 Migas terdapat penurunan, namun kenyataan di lapangan jumlah RTSM masih banyak dan butuh perhatian.

Kepala Desa Gayam, Winto,mengungkapkan, pada tahun 2014  jumlah warga miskin menurun, dari total 511 KK, menjadi 365 KK.  Hal ini dikarenakan, geliat ekonomi masyarakat setempat mengalami perubahan pesat dengan adanya proyek Blok Cepu, meskipun masih banyak yang bekerja sebagai buruh tani, namun ada juga yang berwirausaha.

“Tapi masih ada yang miskin,dan belum bisa mentas dari kemiskinannya karena beberapa faktor,” ujarnya.

Dia menjelaskan, masyarakat miskin tersebut diantaranya ada yang hidup sebatang kara dan sudah tua, serta minimnya sumber daya manusia yang dimiliki.

“Untuk kesejahteraan tetap ada program yang diperuntukkan bagi warga miskin,” tandasnya.

Meskipun demikian, pihaknya kebingungan menentukan kriteria miskin di desanya. Karena, dilihat dari segi fisik seperti bangunan rumah dan kendaraan roda dua bisa dikatakan kaya. Tetapi jika diihat dari segi penghasilan masih menjadi buruh tani, bahkan tidak memiliki mata pencaharian lagi setelah menjual lahannya.

Terpisah, Sekretaris Desa Ngampel, Hantoyono, mengaku ada penurunan RTSM di desa yang berdekatan dengan Pad B, Lapangan Sukowati Blok Tuban, namun masyarakat yang terhitung miskin hingga kini tidak ada perubahan sama sekali.

“Ya, yang miskin tetap saja miskin,” tukasnya.

Dia menjelaskan, pola pikir masyarakat di desanya masih terbelakang, hal ini dikarenakan bekerja atau tidak bekerja tetap mendapatkan uang dengan mengandalkan operator, padahal sekarang CSR tidak diperbolehkan berupa uang.

“Tapi kalau diberi pinjaman modal melalui koperasi tidak bisa balik. Bahkan, diberi program ternak malah habis ternaknya tanpa ada hasil apa-apa,” terangnya.

Dia menambahkan, kondisi masyarakat yang miskin di Desa Ngampel bisa dikatakan jauh dari sejahtera, terbukti mata pencaharian penduduk adalah buruh tani dan serabutan.

“JOB P-PEJ pun seakan-akan menutup mata dengan kondisi tersebut, merasa sudah memberikan dana lalu lepas tangan begitu saja,”pungkasnya. (re/*acw)

Leave a Comment