Share

Ka Disnakertransos: Pemkab Sudah Transparan

Lima orang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Independent Yout Movement melakukan aksi demo di kantor Dinas tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial untuk menanyakan alokasi anggaran dana bagi hasil cukai tembakau selama ini.

Bojonegoro (media Center) – Lima orang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Independent Yout Movement melakukan aksi demo di kantor Dinas tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial untuk menanyakan alokasi anggaran dana bagi hasil cukai tembakau selama ini.

Ketua Independent Youth Movement, Usul Pujianto, mengatakan, selama ini pihaknya mempertanyakan alokasi anggaran dari dana bagi hasil cukai tembakau kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, baik Disnakertransos, Dinas UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan Dinas Pertanian.

“Kami sudah menyurati kepala dinas dua minggu yang lalu, tapi belum dapat jawaban,” ujarnya.

Dia menyampaikan, seharusnya pemkab setempat mentransparansikan jumlah dan peruntukan anggaran tersebut karena selama ini masyarakat tidak mengetahui secara jelas untuk apa dan berapa uang yang diterima selama ini.

“Karena tidak ada jawabam ya kami demo,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Disnakertransos, Adie Witcaksono, mengatakan, telah menerima surat yang dimaksud meskipun tidak mengetahui apa yang diminta dari rekan-rekan Independent Youth Movement ini.

“Kalau memang minta data dan informasi, kami sangat terbuka sekali. Silahkan datang ke kantor dan kami akan berikan data yang diminta,” tegasnya.

Dia menyebutkan, anggaran untuk dana bagi hasil cukai tembakau pada tahun 2014 telah dialokasikan dengan rincian, program pembinaan tenaga kerja untuk penguatan ekonomi masyarakat, pengentasan kemiskinan untuk mengurangi pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kegiatan padat karya ini dilaksanakan di Desa Tlogoaji, Kecamatan Sumberrejo, Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Desa Sumberagung, Kecamatan Kepohbaru, dan Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu.

“ Untuk kegiatan tersebut realisasi anggaran hampir Rp 264 juta,” tukasnya.

Adie melanjutkan, kegiatan kedua adalah pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja pada masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau seperti pelatihan aneka kue, las listrik, otomotif dan menjahit dengan realisasi anggaran sebesar Rp 174 juta.

Sementara kegiatan terakhir adalah penguatan ekonomi masyarakat dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dilaksanakan melalui bantuan alat kerja dengan realisasi anggaran seebsar Rp 860 juta..

“Kami akan sangat terbuka bagi siapa saja yang mempertanyakan anggaran dan peruntukannya, karena tidak ada yang ditutup-tutupi selama ini,” pungkas Adie. (re/**mcb)

Leave a Comment