Share

Kabupaten Bojonegoro Juara I Indonesia Green Region Award

Bojonegoro (Media Center) – Sejak ratusan tahun yang lalu Bojonegoro menghadapi problem, terlalu banyak air disaat tertentu, terlalu sedikit dan bahkan tidak ada air dibeberapa kawasan pada saat kemarau. Ditambah sejak 15 tahun terakhir problem air dan udara kotor semakin meningkat, seiring dengan aktifitas ekonomi.

Mengapa terlalu banyak ? karena curah hujan 14 kabupaten atau kota lain dapat secara bersamaan lewat bengawan solo masuk ke kawasan Bojonegoro. Apalagi bila hujan lebat (melebihi 130 mm/jam) terjadi di kawasan Bojonegoro. Inilah yang menyebabkan banjir bandang di kawasan akibat konsentrasi aliran air, terutama sejak penebangan hutan ilegal era reformasi awal.

Banjir genangan kiriman, bandang, kekeringan, kualitas air dan udara yang menurun hanyalah gejala yang nampak akibat kerusakan lingkungan hidup. Problem inilah yang menjadi konsen pembangunan lingkungan Bojonegoro.

Berbagai upaya dilakukan dalam rangka mengurangi sumber kerusakan, memperbaiki kerusakan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan. Revisi tata ruang, gerakan penanaman pohon, gerbang bersinar Bojonegoro, pembuatan biopori, embung, infrastruktur irigasi, jalan paving, dan lain lain diantara wujud implementasi tiga strategi perbaikan lingkungan hidup di Bojonegoro.

Bila sore ini Bojonegoro menjadi juara I IGRA (Indonesia Green Region Award) 2014, lewat serangkaian penjurian yang diselenggarakan Majalah SWA dan KBR 68, melampaui kabupaten yang lain, tentu menjadi apresiasi oleh Lembaga non pemerintah agar Bojonegoro terus meningkatkan upayanya. Karena sejatinya kerusakan lingkungan Bojonegoro menjadi beban nasional dan dunia. Memperbaikinya juga memperbaiki dunia. Terus berkomitmen, inisiatif, karya nyata dan belajar bersama.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah dan terus mendukung terwujudnya Bojonegoro kawasan yang nyaman untuk hidup, bermain, kerja, ibadah dan belajar.

Jakarta, 22 Desember 2014
Salam,
Kang Yoto

2 Comments on this Post

  1. A.N. Qomari

    Aku asli wong jonegoro turut bahagia atas prestasi yang didapat, harus dikembangkan kembali penuh inovasi terutama terkait dengan pembuatan saluran irigasi di daerah dataran tinggi sehingga produksi pertanian bisa sejajar dengan lahan dekat aliran bengawan solo, memanfaatkan kembali HIPPA yang selama ini mati suri karena operating management yang salah masih carut marut mengingat sebagian besar rakyat jonegoro adalah petani dan buruh tani. Peran pemerintah sebagai Agent of Change perlu dioptimalkan jika jonegoro benar benar bisa berpredikat sbg Lumbung Pangan dan Energi. Suskes Slalu tuk jonegoro

    Reply
  2. Kunci sukses mimpi Bojonegoro, sebagai lumbung energi khususnya lumbung pangan negeri adalah , lahan tadah hujan yang masih luas di kabupaten Bojonegoro bisa digunakan secara maksimal untuk ditanami tanaman, pangan. Tapi semua itu agar bisa bertanam harus ada air, dan cara untuk mengelola air yang berlebihan saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau adalah sdebagai berikut: 1. Memperbanyak embung – embung di lahan pertanian tadah hujan 2. Membangun Waduk – waduk besar di wilayah selatan Bojonegoro, khususnya daerah pinggiran hutan 3. Membendung Bengawan solo dan mengalirkannya ke tanah solo valey yang lahannya sudah di siapkan bangsa Belanda membentang dari Bojonegoro barat sampai timur sepanjang 78 km 4. Optimalisasi areal sawah dengan pompanisasi di sawan sekitar bengawan solo 5. Dengan merancang teknologi pengairan , khususnya sungai – sungai anak bengawan solo dibuat cek dam dan airnya di sedot ke penampung air untuk dialirkan ke lahan lahan pertanian sekitar sungai 5. Memberikan pekerjaan pada masyarakat sekitar hutan , agar mau menanami hutan kembali, dan tidak tergesa gesa untuk menebangnya. Semua itu memakai uang yang banyak, dan caranya adalah hasil migas yang menghasilakn uang yang banyak itu digunakan untuk pembangunan sarana produktif, sehingga pembangunan ekonomi berkelanjutan bisa dirasakan sepanjang zaman.

    Reply

Leave a Comment