Share

Kampanyekan Lingkungan Melalui Sandur 

Ning nang neng gung Pak Bayan
Sego jagung ora doyan
iwak pitik enake
ketiban dingklik aduh mbok’e
Bojonegoro (Media Center) – Itulah sepenggal lirik yang dibawakan para Panjak Hore dengan iringan gamelan yang mengawali pementasan Sandur. Kesenian Sandur merupkan seni pertunjukan tradisional yang berbentuk teater tradisional. Sandur merupakan salah satu kesenian yang kompleks namun sederhana dalam penyajiannya.
Sebagai bentuk teater tradisional, seni pertunjukan Sandur mempunyai unsur cerita (drama), Tari, Karawitan, Akrobatik (Kalongking). Tak hanya itu, biasanya pertunjukan sandur ini juga dilengkapi dengan unsur mistis dengan menghadirkan Danyang (roh halus).
Kesenian asli Bojonegoro ini masih minim dikenal oleh masyarakat. Bahkan, tak banyak seniman yang bisa memainkan sandur beserta unsur pertunjukan lainnya. Dalam rangka mengenalkan kesenian ini, Tim Sandur Sayap Jendela berkolaborasi dengan teater Lorong Putih (SMAN 1 Bojonegoro) mementaskan Sandur dengan mengambil lakon ‘Kembang Desa’. Pementasan yang digelar Sabtu (21/3/2015) malam kemarin menyedot antusiasme para pelajar dan warga yang memenuhi pelataran dan pendopo Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro di Jalan Teuku Umar.
“Kita sudah beberapa kali mementaskan sandur ini, kali ini menggandeng pelajar agar bisa regenerasi dan menularkan kesenian ini,” Ujar Oky Dwi Cahyo, pemeran tokoh Balong.
Pementasan diawali dengan tetabuhan gamelan dan alat musik tradisional lainnya dengan nyanyian para Panjak Hore. Selanjutnya, para pemain drama memainkan perannya yang diselingi dengan tarian dan nyanyian. Beberapa kali Panjak Hore menyela dialog para tokoh dengan guyonan dan bantahan (senggak). Dalam pementasan itu, para seniman Sandur ini mengangkat isu lingkungan dan sampah sebagai bentuk kampanye peduli lingkungan pada generasi muda.
Belum puas mengocok perut penonton dengan guyonan khas dengan bahasa Jonegoroan, puncak acara Sandur diiringi dengan tetabuhan yang semakin intens dan tembang Kalongking.
Sun kalong-kalongking,
Yen sore wayahe munggah,
Ngitir, mangan, turu, nggandul
Mudun karo nyungsang
Begitu tembang dimulai, pemain kalong mulai memanjat panggung yang terbuat dari dua bilah bambu setinggi 10-12 meter yang dihubungkan dengan seutas tali rami tebal. Seperti namanya, Kalongking berasal dari kata Kalong atau kelelawar yang tidur dengan menggantung.
Pemeran kalong yang berusia muda tersebut langsung mendapat aplaus dari para penonton yang menikmati pertunjukan dengan was-was. Sementara tembang terus dilantunkan dan musik terus ditabuh, sang Kalong terus beraksi semakin liar dengan berbagai atraksi akrobatik. Pertunjukan diakhiri dengan turunnya Kalong dengan cara nyungsang (kepala di bawah).
“Baru pertama kali melihat Sandur dan sangat mengesankan. Saya baru tahu di Bojonegoro ada kesenian semacam ini,” ujar Wahyu, salah satu penonton.(lya/dwi)

Leave a Comment