Share

Kemarau, Omset Perajin Bata Bengawan Solo Meningkat

Musim kemarau biasanya sering mengakibatkan bencana kekeringan maupun krisis air bersih di sejumlah daerah. Namun di Bojonegoro, musim kemarau justru menjadi berkah bagi para perajin batu bata di tepi Sungai terpanjang di Pulau Jawa ini. Para perajin mengaku, omset yang didapatkan meningkat hingga 200% jika dibanding musim penghujan.

Bojonegoro (Media Center) – Musim kemarau biasanya sering mengakibatkan bencana kekeringan maupun krisis air bersih di sejumlah daerah. Namun di Bojonegoro, musim kemarau justru menjadi berkah bagi para perajin batu bata di tepi Sungai terpanjang di Pulau Jawa ini. Para perajin mengaku, omset yang didapatkan meningkat hingga 200% jika dibanding musim penghujan.

Salah satu sentra perajin batu bata di Bojonegoro yang terletak di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota Bojonegoro. Cuaca yang panas, serta kencangnya hembusan angin membuat batu bata cepat mengering. Salah satu perajin batu bata di Ledok kulon, Suwoto, 48 tahun, mengatakan jika pada saat musim kemarau seperti saat ini ia bisa memproduksi hingga 500 batu bata setiap harinya.

“Kalau satu bulan bisa sampai 15.000 biji,” ujar Suwoto.

Ia menjelaskan, jika dibanding pada saat musim penghujan ia hanya bisa memproduksi sekitar 100 hingga 150 batu bata setiap hari. Batu bata yang terbuat dari tanah liat di tepi Sungai Bengawan Solo ini di jual dengan harga Rp 500 perbiji, untuk harga matang. Sedangkan untuk batu bata mentah dijual seharga Rp 230 perbijinya. Dengan harga tersebut para perajin batu bata dalam sebulan bisa meraup keuntungan hingga Rp 7juta. Selain dipasarkan di wilayah Bojonegoro, batu bata ini juga di kirim ke sejumlah daerah seperti Surabaya Gresik Dan Lamongan.(**mcb)

Leave a Comment