Share

Tingkatkan SDM Operator Perahu Tradisional

Bojonegoro (Media Center) – Keberadaan sungai Bengawan Solo yang melintas di Kabupaten Bojonegoro membuat transportasi di Kabupaten Bojonegoro sebagian menggonakan moda transportasi perahu. Meski hanya digunakan oleh warga disepanjang bantaran, namun di tahun 2011 lalu pernah terjadi kecelakaan pada transportasi di sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.
Hal inilah yang membuat staf dari Kementerian Perhubungan mengunjungi Kabupaten Bojonegoro. Dalam kunjungan ini, staf Kementerian Perhubungan akan mengumpulkan data untuk pelaksanaan program Klinik SDM Transportasi Darat di bagian Sungai.
Teguh Hari Basuki, Perencana Lembaga Pelatihan Kementerian Perhubungan RI mengatakan, program yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas operator transportasi sungai ini didasari banyaknya laporan dari daerah-daerah.
“Berdasarkan laporan, masyarakat pengguna sungai ini masih belum memahami betul tentang keselamatan angkutan sungai,” ujar Teguh, Kamis (12/3/2015).
Tak sampai di sini saja, pria yang akrab disapa Teguh ini mengaku akan kembali mengunjungi Kabupaten Bojonegoro dalam rangka penyerahan kelengkapan kapal seperti life jacket, kotak P3K, buku panduan keselamatan di air hingga lampu penenrangan.
“Bulan depan bantuan akan diserahkan langsung pada para operator perahu,” lanjutnya.
Ia menegaskan, peningkatan SDM ini tak hanya berupa sosialisasi dan pemberian alat kelengkapan kapal. Menurutnya, hal yang lebih mendasar seperti yang ada dalam Peraturan Menteri Perhubungan seperti memiliki surat  kecakapan kemudi, sertifikat kelaikan kapal, pendaftaran kapal serta hal mendasar lainnya akan dilakukan secara bertahap.
“Nanti semuanya harus lengkap, tapi dilakukan bertahap. Tidak mungkin langsung sekaligus,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bojonegoro, Iskandar, mengatakan, saat ini di sepanjang sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro terdapat sekitar 72 angkutan sungai yang melayani penyeberangan. Dari jumlah ini, sebanyak 30 operator akan dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi operator angkutan sungai.
“Sementara ini, operator belajar otodidak. Jadi pengetahuan tentang keselamatan juga belum memadai,” tukas Iskandar.(lya)

Leave a Comment