Share

Konsen Rumuskan Pengelolaan Dana Abadi Migas

Bojonegoro (Media Center) – Kabupaten Bojonegoro tengah berusaha menerapkan kebijakan Dana Abadi Migas. Konsep dana abadi migas di Kabupaten Bojonegoro ini merupakan yang pertama kali di lakukan di tingkat kabupaten di Asia Pasific. Hal ini dikatakan Rahmat Junaidi, Kepala Bidang Sosial Budaya, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bojonegoro.

Rahmat, sapaan akrabnya menjelaskan, konsep pengelolaan dana abadi yang ditulis Bupati Bojonegoro, Suyoto ini telah dipresentasikan di pertemuan daerah penghasil migas di Indonesia pada beberapa waktu yang lalu.

“Tanggapannya sangat positif, karena dalam konsep dana abadi ini Bojonegoro kemungkinan bisa terbebas dari kutukan daerah penghasil minyak dan gas,” ujar Rahmat.

Ia menjelaskan, tujuan munculnya gagasan membentuk Dana Abadi Migas dari estimasi pendapatan Migas, baik Partisipating Interest (PI) dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang sangat besar.

“Keinginan kita semua, khususnya Pak Bupati. Dana yang besar tersebut tidak langsung dihabiskan. Tapi disimpan sebagian untuk generasi mendatang, usai migas sudah habis,” lanjutnya.

Dia menambahkan, sebenarnya bisa saja ketika Pemkab menghabiskan dana tersebut untuk belanja APBD. Tapi ada pertimbangan tersendiri akan nasib generasi mendatang. Sehingga, perlu adanya perumusan Dana Abadi ini secara matang agar hasilnya sesuai dengan aturan yang ada.

Sementara itu, Bojonegoro Institute (BI) masih melakukan kajian yuridis terhadap kebijakan Dana Abadi Migas. Kajian yuridis ini masih menunggu jawaban dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Direktur BI, Saiful Huda menyampaikan, kajian tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah nanti Dana Abadi Migas melanggar aturan di atasnya. Karena, harus menyesuaikan tata kelola keuangan yang diatur oleh perundang-undangan di Indonesia.

Ia menyampaikan, BI sangat mendukung gagasan Dana Abadi Migas. Melihat potensi pendapatan migas yang cukup besar salah satunya dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu yang diterima oleh Pemkab. Sehingga, dana migas tidak habis terpakai tapi disisihkan untuk generasi mendatang.

“Jangan sampai generasi mendatang hanya mendengar tentang kejayaan Bojonegoro yang menjadi penyumbang minyak terbesar di dalam negeri,” ujarnya. (lya/*acw)

Leave a Comment