Share

Lahan Pertanian Berkurang, Buruh Tani Terancam Kehilangan Matapencaharian

Menurunnya luasan lahan pertanian di sekitar ladang migas di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro membuat buruh tani di Blok Cepu terancam kehilangan mata pencaharian. Seperti yang diungkapkan Kasri, salah satu buruh tani di desa tersebut.

Bojonegoro (Media Center) – Menurunnya luasan lahan pertanian di sekitar ladang migas di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro membuat buruh tani di Blok Cepu terancam kehilangan mata pencaharian. Seperti yang diungkapkan Kasri, salah satu buruh tani di desa tersebut.

Kasri merupakan buruh tani di Desa Bonorejo yang berada di daerah ladang minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro. Ia mengaku bekerja berkelompok dan mendapat garapan secara borongan. Untuk menanam benih padi saat musim tanam di lahan sawah seluas seperempat hektare diberikan upah borongan sebesar Rp200.000. Untuk lahan sawah satu petak yang ukurannya lebih sempit misalnya biasanya mendapatkan upah borongan sebesar Rp150.000. Upah borongan yang diterima itu lalu dibagi lima orang yang menjadi anggota kelompok buruh tani tandur tersebut.

“Dalam sehari biasanya menerima dua sampai tiga borongan tanam benih padi atau tandur. Borongan tandur seperti ini hanya berlangsung saat musim tanam padi yakni saat musim hujan,” tuturnya.

Kasri dan teman-temannya ini sudah puluhan tahun menekuni pekerjaan sebagai buruh tani. Selain tanam padi atau tandur, mereka juga biasanya diminta membersihkan gulma atau rumput pada saat tanaman padi berumur sebulan hingga dua bulan. Selain itu, saat masa panen padi mereka juga biasanya membantu menebas batang padi atau merontokkan bulir padi menggunakan mesin dos.

Namun, kata Kasri, seiring dengan adanya kegiatan industri minyak dan gas bumi Banyu Urip Blok Cepu dampaknya lahan pertanian banyak berkurang. Sebelum ada proyek migas Blok Cepu, kata Kasri, ia biasa memborong menanam benih padi selama sebulan lebih. Selain di Desa Bonorejo, ia juga diborong oleh para petani di Desa Mojodelik, Brabowan, Beged dan sekitarnya.

“Sekarang borongan tandur paling lama sepuluh hari. Lahan pertanian juga berkurang,” jelasnya.

Menurut Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Gayam, Tamzil, berkurangnya lahan pertanian di desa-desa sekitar ladang migas Banyu Urip Blok Cepu rawan menimbulkan gejolak sosial. Mereka yang paling rawan jatuh miskin yaitu petani dan buruh tani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari lahan pertanian.

“Petani dan buruh tani itu keterampilannya ya menggarap lahan sawah. Kalau lahan pertaniannya sudah tidak ada, maka mata pencaharian mereka juga akan hilang,” ujarnya.

Lahan pertanian di Desa Mojodelik yang merupakan desa penghasil minyak dan gas bumi lapangan Banyu Urip Blok Cepu misalnya kini tinggal 300 hektare. Sedangkan, lahan pertanian seluas 400 hektare telah beralih fungsi menjadi lokasi industri migas Banyu Urip Blok Cepu.(**mcb)

Leave a Comment