Share

Manfaatkan Tanaman Pagar Untuk Produksi Tikar

Bojonegoro (Media Center) – Memasuki musim kemarau, warga Bojonegoro mulai mengurangi aktifitas pertanian. Hal ini untuk menghindari terjadinya gagal panen yang disebabkan minimnya pasokan air bagi lahan persawahan. Hal serupa juga dilakukan Tarsih.

Wanita berusia 45 tahun yang merupakan warga Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem ini mengaku melakukan aktifitas lain untuk menambah pundi-pundi rupiah saat kemarau tiba.

Memanfaatkan pandan duri yang tumbuh subur di desa setempat, Tarsih serta sebagian besar warga di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan ini memproduksi tikar pandan. Tak hanya didukung melimpahnya bahan baku pandan duri yang menjadi tanaman pagar, terik matahari di musim kemarau menjadi keuntungan saat menjemur tikar yang telah dianyam.

“Kalau kemarau libur ke sawah. Jadi warga banyak yang membuat tikar pandan,” ujarnya saat ditemui kanalbojonegoro.com.

Selain Tarsih, sebagian besar warga sekitar sangat mahir membuat tikar pandan. Pembuatan tikar pandan itu dilakukan sendiri, mulai dari mengambil daun pandan, memisahkan durinya, sampai proses penyulaman.

“Satu tikar ini bisa jadi selama dua hari,” lanjutnya.

Warga yang membuat tikar pandan itu tidak perlu kawatir tidak ada pembelinya. Sebab, sudah ada pengepul yang mendatagi rumah-rumah warga. Oleh pengepul, tikar pandan itu dihargai sebesar Rp25 ribu per lembar dengan ukuran 2 x 1,5 meter.

Untuk melestarikan tradisi itu, warga kemudian banyak yang menanam pandan duri di depan dan belakang rumah sebagai pagar. Sehingga rumah-rumah warga yang ada di daerah sekitar terasa begitu rindang. Selain itu pandan duri juga banyak dijumpai di tepi sungai dan ladang.(lya/*mcb)

Leave a Comment