Share

Material Double Track, Sisakan Masalah

nagihan di Surabaya melalui Satuan Kerja (Satker) selaku pelaksana proyek rel jalur ganda telah dilakukan berulangkali, namun bukanlah pembayaran yang diterima. Termasuk ke PT Voltraco, yang menurut Hartono seolah sengaja melempar tanggungjawab

Bojonegoro (Media Center) – Mega Proyek Jalur Ganda (Double Track) Kereta Api di Bojonegoro, Jawa Timur, telah usai pembangunannya. Namun PT Voltraco selaku kontraktornya masih belum membayar material untuk pengurukan landasan relnya. Yakni sebanyak 1037 M3 tanah uruk jenis kuari milik supplier asal Bojonegoro.

“Pengiriman tanah uruknya sudah selesai di Bulan November 2011 lalu dan sampai sekarang kalau ditagih katanya sudah membayar di pelaksana proyek dari PT Kereta Api Daop Surabaya, saat kami menagih di sana, kami disuruh menagih ke PT Voltraco yang kantornya berlamat di Jakarta,“ kata Hartono, supplier tanah uruk, Selasa (15/07/2014).

Ia mengatakan, penagihan di Surabaya melalui Satuan Kerja (Satker) selaku pelaksana proyek rel jalur ganda telah dilakukan berulangkali, namun bukanlah pembayaran yang diterima. Termasuk ke PT Voltraco, yang menurut Hartono seolah sengaja melempar tanggungjawab. Padahal pihaknya membawa nota pengiriman tanah uruk asli yang diteken oleh pihak penerima dari PT Voltraco.

Saat PT. Voltraco ditagih mengatakan telah membayar tanah uruk ke salah satu pejabat Satker PT Daop 8 Surabaya bernama Tabri. “Saya kenal Pak Tabri, tapi kata Pak Tabri belum pernah menerima pembayaran tanah utuk yang telah saya kirimkan ke lokasi proyek,“ terang Hartono yang menyebutkan uang tagihannya sebesar Rp 67,4 juta.

Saat ditemui, Tabri membenarkan apabila dirinya belum menerima pembayaran dari PT Voltraco, dia menegaskan seharusnya pembayaran diterima langsung oleh supplier tanpa harus melalui dirinya. “Suruh saja supplier menagih ke PT Voltraco,“ katanya. Dia yang saat ini sudah pensiun dari Satker menambahkan untuk persoalan supplier yang belum dibayar telah dibahas dengan pimpinan Satker di Surabaya.

Dari pembahasan disarankan kepada supplier untuk menagih langsung ke PT. Voltraco, sementara itu pimpinan Satker, Budi Santoso saat dihubungi melalui ponselnya tidak menjawab. Salah satu stafnya Lasimin mengakui adanya persoalan tersebut, pimpinannya telah membantu untuk mencairkannya beberapa waktu lalu. “Kalau belum cair, seharusnya supplier menagih ke PT Voltraco,“ katanya.

Direktur PT Voltraco Kho Aling dihubungi melalui ponselnya mengaku tidak tahu urusannya dengan supplier, karena dirinya hanya bekerja sama dengan Satker. “Tentunya pembayarannya ya sudah beres semua dan langsung saya bayarkan ke Satker, saya sudah anggap pekerjaan saya di Bojonegoro telah tuntas dan gak ada persoalan lagi,“ tegasnya.

Rencananya, pihak suplier bakal membawa masalah ini ke ranah hukum, dengan pertimbangan telah mengalami kerugian material dan non material. (*/gufron/mcb)

Leave a Comment