Share

Menyeberangi Bengawan Solo Dengan Jembatan Bambu

Jembatan-jembatan dadakan itu tersebar di beberapa titik, diantaranya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Bojonegoro. Di titik tambangan yang menghubungkan Kelurahan Kauman dan Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk ini telah terdapat jembatan bambu sepanjang kurang lebih 50 meter. Jembatan ini menjadi pengganti perahu yang biasa dipakai menyeberang oleh para warga

Bojonegoro (Media Center) – Pemandangan rutin di aliran Bengawan Solo yang melintasi Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur adalah jembatan dadakan yang terbuat dari bambu. Jembatan-jembatan itu dipasang lantaran perahu penyebarangan tak lagi dapat beroperasi, menyusul dangkalnya sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut saat musim kemarau tiba.

“Tiap kemarau kita pasang jembatan bambu, dikerjakan bersama dengan penambang lain,” ujar Siswanto, penambang perahu penyebarangan. Hal ini dilakukan untuk menggantikan jasa penyebarangan yang biasa menggunakan perahu.

Agar tetap dapat melayani warga untuk menyebarangi Bengawan Solo, di sepanjang sungai terdapat belasan jembatan serupa. Menurut Siswanto, tarif yang diberlakukan adalah sama persis dengan tarif penyebarangan menggunakan perahu.

Biasanya warga yang menyeberang ditarik Rp1.000,- untuk sepeda motor dan Rp500,- untuk sepeda ontel atau pejalan kaki. “Tarifnya tetap sama, karena saat membuatnya patungan dengan penambang lain, hasilnya dibagi rata” imbuhnya.

Jembatan-jembatan dadakan itu tersebar di beberapa titik, diantaranya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Bojonegoro. Di titik tambangan yang menghubungkan Kelurahan Kauman dan Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk ini telah terdapat jembatan bambu sepanjang kurang lebih 50 meter. Jembatan ini menjadi pengganti perahu yang biasa dipakai menyeberang oleh para warga.(*/lyamcb )

Leave a Comment