Share

Nyadran di Desa Jono, Dua Malam Gelar Wayang dan Tayub

Bojonegoro (Media Center) – Sedekah bumi atau yang biasa disebut dengan nyadran digelar oleh warga di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Sedekah bumi yang digelar pada Jumat (17/4/2015) pagi ini dilaksanakan sebagai peringatan atas rasa syukur setelah panen raya di wilayah sekitar.

Tak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Nyadran ini juga untuk melestarikan kearifan budaya lokal. Beberapa jenis kesenian daerah ditampilkan untuk melengkapi rangkaian upacara adat ini.

“Dua malam berturut turut digelar kesenian. Malam pertama wayang dan malam selanjutnya kesenian tayub,” jelas Supangat, salah satu tokoh masyarakat di desa setempat.

Ia menjelaskan, tak hanya terpatok pada jenis makanan yang harus dibawa serta kesenian yang ditampilkan. Salah satu syarat dalam perayaan ini adalah Rontek yang berupa hiasan dari kertas warna warni yang digantung di sekitar lokasi nyadran.

Antusiasme warga akan tradisi nyadran ini tampak dengan keberadaan rontek yang mulai terlihat sejak memasuki jalan Desa Jono hingga Makam Raden Imam Sujono yang menjadi lokasi nyadran.

Desa Jono yang dikenal sebagai Desa Budaya di Kabupaten Bojonegoro memang masih memegang erat tradisi dan budayanya. Supangat menyebutkan, setidaknya ada beberapa dukuhan yang masih rutin menggelar sedekah bumi yang disebut juga manganan.

“Di Jono ada empat titik dan waktunya berbeda, salah satunya adalah di sendang templek,” imbuh pria yang juga anggota Koramil Temayang ini.

Pantauan di lapangan, ratusan warga memadati area yang disakralkan di desa setempat yang terletak di tengah arena persawahan. Ibu-ibu berbondong-bondong membawa ember berisi nasi, ayam panggang, kerupuk, pisang dan jajanan pasar. Di beberapa daerah, sedekah bumi dilakukan dengan makan bersama. Namun, banyak diantara warga saling menukar makanan yang dibawanya dengan warga lainnya untuk dibawa pulang. (lya/*acw)

Leave a Comment