Share

Pemkab Bojonegoro Terapkan Banyak Peraturan Tertibkan Penambang Pasir

Bojonegoro, 26/10 (Media Center) – Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menyebutkan, penambang pasir yang ada di Sungai Bengawan Solo bisa menggunakan banyak aturan untuk menertibkannya.

Mulai dari Peraturan Daerah (Perda) nomor 15 tahun 2015 Pasal 16 ayat 2 jo Pasal 38 ayat 1 tentang Penyelenggaraan Ketenteraman dan Ketertiban Umum. Dalam Perda tersebut, setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan ketentuan tersebut terancam pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp50 juta.

“Selain Perda Bojonegoro, juga bisa menggunakan perda provinsi,” ujar Kepala Satpol PP Pemkab Bojonegoro, Achmad Gunawan, Jumat (26/10).

Penegakan Perda itu sanksinya lebih rendah jika dibandingkan dengan penegakan yang dilakukan menggunakan Undang-undang (UU) Republik Indonesia nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Dalam undang-undang tersebut, penambang ilegal bisa terancam pidana kurungan selama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

“Jika penegakan peraturan menggunakan UU RI ini menjadi kewenangan Polri. Dengan sanksi yang lebih berat,” terangnya.

Namun hingga saat ini, penambang pasir secara manual (tradisional) di Sungai Bengawan Solo yang melintas di Kabupaten Bojonegoro masih banyak. Mulai dari wilayah hilir, di Kecamatan Margomulyo, Kasiman, Padangan, Kalitidu maupun di Kecamatan Bojonegoro. Jumlah penambang yang masih beroperasi secara ilegal diperkirakan ada 20 titik lebih menggunakan cara manual.

“Sementara penambang yang menggunakan mesin mekanik yang sering “kucing-kucingan” dengan kami itu ada sekitar lima penambang,” terangnya.

Selama ini, menurut Gunawan, dalam melakukan penertiban, Satpol PP telah menyita peralatan mekanik yang digunakan untuk menyedot pasir. Namun, hal itu tidak mampu membuat pemiliknya jera. “Namun, seperti yang kita lakukan pada penambangan pasir di Desa Sidorejo, Kecamatan Padangan, kita tempuh penindakan cara pidana,” tandasnya.

Namun, ternyata hal itu tidak mudah dilakukan karena dalam masa penyelidikan, tidak menemukan siapa pemilik tambang tersebut. Sehingga, yang diamankan dan diperiksa merupakan pekerja.

“Kedepan, kita akan tindak tegas para pemilik tambang,” pungkasnya.

Salah satu pekerja tambang pasir di Desa Semanding, Kecamatan Bojonegoro, menyampaikan, sejak satu tahun terakhir bekerja sebagai penambang pasir di Sungai Bengawan Solo, dia mengaku tidak ada razia dari manapun.

Pria asal Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban ini, mengaku, setiap harinya bisa mengangkut tiga sampai lima truk material pasir ke Kabupaten Lumajang atau wilayah lainnya di luar Bojonegoro.(*dwi/mcb)

Leave a Comment