Share

Pemkab Tidak Memiliki Data Lengkap Industri di Bojonegoro

Ditengah pesatnya perkembangan ekonomi dan pembangunan di Bojonegoro karena industrialisasi minyak dan gas bumi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) justru tidak memiliki data jumlah industri kecil dan menengah besar.

Bojonegoro (Media Center) – Ditengah pesatnya perkembangan ekonomi dan pembangunan di Bojonegoro karena industrialisasi minyak dan gas bumi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) justru tidak memiliki data jumlah industri kecil dan menengah besar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Basuki, mengatakan, semua data industri berada di Badan Perijinan karena fungsi perijinan dagang dan usaha sekarang tidak lagi ditangani instansinya.

“Tapi untuk tahun ini kita akan melakukan pendataan ulang, nanti setelah pendataan akan kami informasikan,” kata Basuki, Selasa (10/2/2015).

Tidak ada satupun data industri yang ter up to date sejak adanya proyek migas baik di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, Lapangan Sukowati Blok Tuban, Lapangan Tiung Biru, dan sumur tua. Data yang dimiliki dari tahun 2011 sampai 2013 pun masih sama tidak ada perubahan sama sekali.

Data dari Disperindag menyebutkan,  sejak 3 tahun terakhir ada 11 industri besar menengah yang tercatat diantaranya PT 369, PT Petrochina, Mobil Cepu Limited, PT HM Sampoerna, PT 567, PT Gelora Jaya, PT Prima Bumi Pakuwon Jaya, PT Tirta Flora Makmur, CV Keong Mas Permai, dan CV Sono Prima.

Bahkan, dari data berbentuk Pdf tersebut tidak disertai keterangan jenis industri yang disebutkan.

Dari pantauan di lapangan, banyak industri kecil, menengah besar yang bermunculan sejak setahun terakhir. Bahkan, perusahaan kilang mini pengolahan minyak mentah dari Banyuurip tidak terdata sama sekali.

KanalBojonegoro mencatat, industri menengah besar yang tidak terdata tersebut antara lain, operator sumur Tiung Biru Pertamina EP Asset 4, Perusahaan Kilang Mini PT Triwahana Universal di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, beberapa perusahaan atau pabrik beton baik yang lama maupun yang baru, pabrik plastik di Baureno, pemecah batu atau stone cruiser.

Begitu pula dengan industri kecil atau rumah tangga, data 3 tahun terakhir jumlah tidak jauh beda. Tahun 2012 sebanyak 310, dan tahun 2013 sebanyak 312, sementara industri mikro stagnan pada angka 23.732.

Sementara itu, data dari Badan Perijinan, menyebutkan, ada 3 industri menengah yang masih proses ijin namun sudah beroperasi. Diantaranya pabrik beton yang digunakan untuk kebutuhan proyek Blok Cepu yang berada di 3 lokasi yaitu di di Desa Beged, Kecamatan Gayam, di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, dan di Desa Dander, Kecamatan Dander.

“Kami sudah menyerahkan data industri yang ilegal tersebut kepada Satpol PP, selanjutnya mereka yang menegakkan perda dengan memberikan sanksi,” ungkap Kepala Badan Perijinan, Kamidin, melalui stafnya Hari Sustiono. (re/*acw)

Leave a Comment