Share

Penanganan HIV AIDS Membutuhkan Peran Serta Masyarakat

Melihat hal ini maka Komisi Penanggulangan HIV AIDS telah melakukan beberapa kegiatan mulai pendampingan dan konseling kepada keluarga maupun penderita, pelatihan VCT bagi analis untuk menunjang diagnosis HIV AIDS,pelayanan CST di RSUD Bojonegoro serta beberapa kegiatan lain seperti pencegahan dan sosialisasi yang melibatkan seluruh komponen mulai TP PKK, Tokoh Agama dan masyarakat. Kedepan yakni ditahun 2015 akan dilaksanakan beberapa pelatihan diantaranya pelatihan PITC puskesmas di 36 puskesmas, pelatihan kader penyuluh HIV AIDS dan mengembangkan seluruh PRM untuk dapat melakukan tes HIV 3 reagen.

Bojonegoro (Media Center) – Stigma masyarakat yang mengucilkan dan mengasingkan mereka yang menderita HIV AIDS menjadi salah satu sebab mereka yang menderita atau terjangkit virus mematikan ini memilih untuk menyembunyikan sakit yang mereka derita. Belum lagi adanya anggapan masyarakat penyakit ini adalah penyakit akibat hukuman tuhan karena perbuatan yang menyimpang ataukah karma membuat sebagian masyarakat memandang mereka dengan sebelah mata. Hal ini terungkap saat rapat koordinasi Komisi Penangan HIV AIDS Di Bojonegoro yang digelar di Ruang Angling Dharma Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Kamis (20/11) kemarin.

Dr Ahmad Hernowo dari Komisi Penanganan HIV AIDS Kabupaten Bojonegoro ketika ditemui Humas menjelaskan bahwa fenoena gunung es HIV/AIDS di Bojonegoro sangat mengejutkan sudah ditemukan kurang lebih 489 kasus HIV/AIDS. Dijelaskan untuk tahun 2013 ini terdapat 126 kasus baru dan angka kematian 31 kasus. Sedangkan untuk tahun 2014 sampai dengan september terdapat 89 kasus baru dan kematian sebanyak 15 kasus. Menurut Hernowo penyebaran HIV AIDS jika digolongkan usia yakni usia dibawah 24 tahun sebanyak 12 kasus didalamnya adalah usia 20-24 tahun sebanyak 4 kasus, 5-9 tahun 2 kasus. Yang lebih mencengangkan adalah dimana usia 0-5 tahun di Bojonegoro saja terdapat 6 kasus HIV AIDS. Sedangkan dari golongan pekerjaan tertinggi adalah pekerja swasta yang mencapai 37 kasus, Pekerja Seks Komersial (PSK) sejumlah 11 kasus dan Ibu Rumah Tangga sejumlah 12 Kasus. Dari kasus HIV AIDS di Bojonegoro ini laki-laki sejumlah 39 orang dan perempuan sejumlah 50 orang terbanyak adalah mereka usia antara 35-44 tahun dengan jumlah 29 kasus.

Sementara itu distribusi kasus HIV dan AIDS baru berdasarkan jenis HIV/AIDS tahun 2012 dan 2013 yakni ditahun 2012 penderita baru HIV positif sejumlah 21 kasus dan AIDS 64 Kasus, sedangkan ditahun 2013 lalu adalah HIV 13 kasus dan AIDS 113 kasus. Untuk tahun 2014 dari Januari sampai dengan september HIV 14 Kasus dan AIDS 75 kasus. Adapun data penyebaran HIV AIDS di Bojonegoro di 28 Kecamatan terbanyak di Kecamatan Dander dengan kasus mencapai 12 kasus. Kemudian disusul Kecamatan Balen, Kalitidu,Sumberejo,Tambakrejo,Kedungadem, Ngraho masing-masing 5 kasus. Baureno, Bojonegoro, Kapas,Sugihwaras dan Gayam terjadi 4 kasus. Kecamatan lainnya rata-rata satu atau dua kasus, sedangkan dua kecamatan yang terindikasikan 0 kasus HIV AIDS yakni Kecamatan Gondang dan Margomulyo.

Melihat hal ini maka Komisi Penanggulangan HIV AIDS telah melakukan beberapa kegiatan mulai pendampingan dan konseling kepada keluarga maupun penderita, pelatihan VCT bagi analis untuk menunjang diagnosis HIV AIDS,pelayanan CST di RSUD Bojonegoro serta beberapa kegiatan lain seperti pencegahan dan sosialisasi yang melibatkan seluruh komponen mulai TP PKK, Tokoh Agama dan masyarakat. Kedepan yakni ditahun 2015 akan dilaksanakan beberapa pelatihan diantaranya pelatihan PITC puskesmas di 36 puskesmas, pelatihan kader penyuluh HIV AIDS dan mengembangkan seluruh PRM untuk dapat melakukan tes HIV 3 reagen.

Dibalik semua itu ada hal yang jauh lebih penting yakni memberikan penyadaran kepada masyarakat dan penderita bahwa penyakit ini tidak bisa terjadi atau tertular hanya karena kontak fisik semata. Apalagi banyak penderita yang tidak mau berobat meskipun sudah dipastikan dirinya positif HIV AIDS hanya karena takut dikucilkan oleh masyarakat sekitar.

Dengan tidak mau berobat dan ditangani secara medis ditakutkan akan mempercepat penyebaran penyakit ini karena ketidak tahuan mereka. Oleh karenanya kesadaran bersama ini diharapkan akan menekan penyebaran HIV AIDS di Bojonegoro karena dari 489 kasus HIV AIDS di Bojonegoro hanya 33 penderita saja yang masu sadar memeriksakan dirinya dan mendapatkan penanganan secara medis. Kesadaran dari penderita mutlak di butuhkan untuk menekan penyebaran angka HIV AIDS di Bojonegoro.(Humas)

Leave a Comment