Share

Penanganan TB Butuh Sinergitas Antar Lembaga

Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Suyoto menyampaikan, Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDCS) memerlukan dukungan dari beberapa pihak baik lembaga masyarakat maupun organisasi sosial. Hal ini sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia dalam pemerataan layanan dan akses kesehatan.

“Jati diri bangsa indonesia masih dominan kesukuan. Sehingga nilai kemanusian bangsa Indonesia lebih lemah, demikian pula dengan rasa persatuan kita yang ternyata sangat mudah untuk dipecah belah,” ujarnya saat memberi sambutan pada kunjungan Tim Pengurus Daerah Aisyiyah Bojonegoro di Rumah Dinas, Kamis (25/3/2015).

Dia menyampaikan, bangsa Indonesia masih memilih dan mengedepankan ego sentri sehingga tekad keadilan masih juga lemah. Sehingga, maka semua pihak harus bisa saling memberi dukungan dan memperkuat keadilan tersebut.

“Kami sangat berterimakasih kepada pengurus PD Aisyiyah karena telah konsen untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Bojonegoro melalui penanganan penyakit Tubercolusis (TBC),” kata Suyoto.

Ia menyampaikan, dalam rangka mewujudkan masyarakat Bojonegoro yang sehat dan produktif, maka terbentuklah GDSC yang didukung dalam beberapa element. Diantaranya 8 indikator sehat dan 12 indikator cerdas.

“Kerjasama lintas sektoral ini nantinya akan mendukung percepatan GDSC yang tengah digagas oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro,” tambahnya.

Suyoto berpesan, agar ada pembaruan data bagi para penderita dan sebaran TBC di Bojonegoro. Selain itu, memperkuat deteksi baik jumlah maupun lokasi. Sehingga masyarakat bisa mengetahui dan terlibat dalam penangannya.

“Pemkab Bojonegoro telah mengeluarkan 4 regulasi berupa peraturan Bupati untuk upaya dan tindakan penyembuhan yang diprioritaskan kepada penderita dan upaya pencegahan dan penyebaran penyakit ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Pimpinan PD Aisyiyah Bojonegoro, Nur Hayati , menjelaskan, program community TB care Aisyiyah ini terdapat di 6 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Antara lain, Kecamatan Balen, Sumberrejo, Kedungadem, Sugihwaras, Gayam dan Kalitidu.

Dia menjelaskan, program ini bekerjasama dengan LSM yang konsen di bidang kesehatan serta Global Faunding. Kedepan, daerah akan diperluas tidak hanya di enam kecamatan namun beberapa kecamatan lain diwilayah Bojonegoro.

“Dari 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro baru 6 kecamatan yang menjadi sasaran,” sambung Nurhayati.

Dia menyatakan, Program ini selain melakukan deteksi, juga memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya penderita dan keluarga. Agar dapat memantau layanan kesehatan baik dari segi pengobatan maupun pendampingan.

Sementara itu berdasarkan data yang dihimpun oleh Sub Sub Recipient (SSR) Program Community TB care Aisyiyah Bojonegoro di trimester tiga ini jumlah orang yang diduga TB di enam kecamatan yang menjadi sasaran kurang lebih 528 penderita.
Rinciannya, Kecamatan Balen 81 orang , Sumberrejo 90 orang, Kedungadem 254 orang, Sugihwaras 46 orang, Gayam 27 orang dan Kecamatan Kalitidu sejumlah 30 orang. Sementara untuk capaian keberhasilan pengobatan mencapai 28 orang.

“Sedangkan kejadian kasus meninggal akibat TB ditahun 2014 adalah 5 kasus kesemuanya di Kecamatan Kedungadem. Hal ini diakibatkan banyak diantara penderita TB yang menghentikan pengobatan ataupun mengkonsumsi obat secara tidak teratur,” pungkasnya.(Wed/dwi)

Leave a Comment