Share

Pengrajin Tempe Kawatir Harga Kedelai Impor Naik

Bojonegoro (Media Center) – Pengrajin tempe yang ada di Kabupaten Bojonegoro mengkhawatirkan adanya dampak kenaikan dollar beberapa waktu lalu. Sebab, kebanyakan para pengrajin tempe itu menggunakan bahan mentah kedelai impor dari luar negeri.

“Biasanya kalau dollar naik, pasti diikuti dengan kenaikan harga kedelai impor,” ujar Hasan, salah satu pengrajin tempe yang ada di Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.

Para pengrajin tempe yang ada di sekitar itu, kata dia, rata-rata menggunakan kedelai impor dari Amerika Serikat. Namun, hingga saat ini harga kedelai tersebut masih stabil. Harga kedelai impor tersebut perkilogramnya senilai Rp7.100.

Sebelumnya, jika dollar naik, kenaikan kedelai sebesar Rp100 sampai Rp200 perkilogram. “Kalau sekarang belum ada kenaikan, mungkin karena ini masih stok lama,” lanjutnya pria yang sudah empat tahun sebagai pengrajin tempe itu.

Meskipun harga kedelai itu naik, dia mengatakan, tidak pernah menaikan harga jual tempe. Namun, disiasati dengan mengurangi takaran kedelai. Dari hasil produksinya, Hasan menjual tempenya dari harga Rp1.000 sampai Rp3.000, sesuai dengan ukuran.

Perhari Hasan bisa menghabiskan kedelai hingga dua kwintal. “Kalau harganya dinaikan takutnya konsumen merasa keberatan, sehingga hanya mengurangi takaran saja,” jelasnya

Sementara, salah satu pemilik gudang UD An-Nuur di Bojonegoro, Muhamad Didik, mengatakan, jika kedelai yang banyak dicari pengrajin tempe yakni kedelai impor dari Amerika Serikat. Selain bentuknya yang besar, jika digunakan untuk membuat tempe hasilnya lebih bagus dibanding dengan kedelai lokal.

“Untuk bahan tempe lebih banyak kedelai impor, karena lebih besar jika dibanding dengan kedelai lokal,” terangnya. (rin)

Leave a Comment