Share

Perajin Batik Bojonegoro Tidak Naikkan Harga

Bojonegoro (Media Center) – Perajin batik Jonegoroan di Kabupaten Bojonegoro,  Jawa Timur, tidak menaikkan harga penjualan, baik kain maupun pakaian jadi, meskipun ada kenaikan harga bahan-bahan, yang dipicu naiknya nilai dolar Amerika Serikat.

“Meskipun ada kenaikan harga bahan batik, untuk harga penjualan batik belum naik,  sebab standar harga batik Jonegoro ditentukan Asosiasi Batik Jonegoroan,” kata seorang perajin batik Jonegoroan di Kelurahan Kadipaten, Bojonegoro Nanik Lusetyarini, Senin (31/8).

Mengenai kenaikan harga bahan batik dibenarkan seorang perajin batik asal Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro Achmad Aris,34 tahun, yang menyebutkan semenjak rupiah melemah, terjadi kenaikan bahan baku batik. Mulai dari kain, pewarna, lilin dan sejenisnya.

“Kenaikan dari lima persen meningkat menjadi lebih dari 25 persen. Saya khawatir, akan terus naik,” ujarnya.

Dia mencontohkan, lilin yang digunakan untuk campuran canting (alat pembatik) yang biasanya Rp45.000 perkilogram kini naik menjadi Rp50.000 perkilogramnya. Begitu juga dengan pewarna khusus kuning, dari sebelumnya Rp200.000 perkilogramnya kini naik menjadi Rp250.000 perkilogramnya. Ada juga campuran perwana khusus biru dari sebelumnya Rp450.000 naik menjadi Rp500.000 perkilogramnya.

Kenaikan bahan baku batik ini, terjadi dua pekan terhitung bulan Agustus 2015. Terutama setelah harga rupiah di atas Rp13.500/dolar. Sehingga saat dolar sudah di atas Rp14.000, maka akan semakin menyulitkan perajin batik dalam produksi batik.

“Kalau harga batik dinaikkan nanti pembeli akan lari,” timpal Nanik.

Padahal, lanjut Aris, selama dua-tiga tahun belakangan ini, batik Bojonegoro, sedang naik daun. Misalnya, produksi rumahan bersama orang tuanya di Desa Prayungan, relatif stabil. Minimal bisa mencetak 20 batik setiap harinya dan jumlah itu bisa bertambah jika mendekati hari-hari besar, atau dapat pesanan. Selain itu, dari pekerja sebanyak dua orang kini sudah ada lima orang.

Namun, dengan lemahnya rupiah atas dolar, maka kemungkinan akan mengurangi produksinya atau seharusnya harga batik naik dari rata-rata Rp90.000 perpotong untuk batik cap, dan di atas Rp200.000 hingga Rp 300.000 untuk batik tulis.

”Saya berharap, rupiah bisa bangkit,” imbuh Aris.

Selama ini, para perajin batik di Bojonegoro yang jumlahnya mencapai 50 perajin terbantu oleh kehadiran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro. Produk yang dikenal dengan sebutan Batik Jonegoroan dikumpulkan dengan berbagai motif. Seperti batik motif daun jati, salak, kayangan api hingga sapi.

Batik Jonegoroan digunakan untuk cinderamata dimana pemasarannya selain pemilik batik sendiri, juga lewat stand di Dekranasda dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bojonegoro. (sa/*mcb)

Leave a Comment