Share

Pertama Kali ke Wonogiri, Suyoto Merasa di Tanah Suci

Bojonegoro (Media Center) – Bupati Suyoto merasa seperti melaksanakan umroh ke tanah suci Makkah saat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kedatangan orang nomor 1 di Bojonegoro beserta jajaran pemkab untuk mengetahui pengelolaan air di bendungan Wonogiri, Rabu (18/2/2015) kemarin.

Dalam sambutannya di kantor Perum Jasa Tirta setempat, Bupati Suyoto yang mengenakan kaos merah marun didampingi istri, Mahfudoh Suyoto, Wakil Bupati Setyo Hartono dan Jajaran Muspida, menyampaikan, kunjungannya di Wonogiri layaknya orang umroh karena merasa ada hubungan spiritual yang sangat kuat.

“Karena Wonogiri, Gajah Mungkur, dan Sungai Bengawan Solo sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di Bojonegoro,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, di hadapan Bupati Wonogiri, Danar Rahmanto, Pejabat dari Perum Jasa Tirta dan muspida setempat, Suyoto, merasakan ada keterikatan batin antara masyarakat Bojonegoro dan Wonogiri berupa satu kesatuan. Betapa perasaan sakral yang sangat kuat, saat mendengarkan sejarah Bengawan Solo.

“Saya sangat ingin ke Delepe, mata air Bengawan Solo yang pertama kalinya keluar dari Pegunungan Seribu,” lanjutnya.

Meski tidak memiliki kesempatan untuk bertandang ke Delepe, namun, bapak tiga anak itu akan bertekad mengunjungi tempat yang berbatasan dengan Kabupaten Pacitan, dimana gambaran sebuah air mancur dan panorama alam lainnya.

“Saya bahkan tertegun, saat tadi dapat cerita dahulu Bengawan Solo ini mengalir ke arah selatan bukan ke utara,” tukasnya.

Saat bercerita sejarah di Jaman Purba, dengan santai Kang Yoto, sapaan akrabnya, menyebutkan, jika tidak ada gesekan lempengan yang menyebabkan pergeseran tanah, tidak mungkin Bojonegoro mendapat kiriman air dari 13 Kabupaten lainnya dan menyebabkan banjir. Juga, tidak akan ada minyak karena ahli geologi mengatakan Bojonegoro dulu berupa lautan pada 27 juta tahun silam.

“Karena gesekan lempengan akhirnya terjadi sedimen. Oleh sebab itu banyak ditemukan fosil laut yang menjadi cikal bakal minyak,” jelasnya.

Mengurus Bengawan Solo sudah dirasakan oleh pria yang memfavoritkan sambal mentah ini sejak pertama bahkan sebelum dilantik. Karena pada tahun 2007 akhir, tidak mengetahui bagaimana ceritanya apakah Waduk Wonogiri dilepas secara besar-besaran atau bagaimana karena ada banjir besar yang luar biasa dan menjadi sejarah Bojonegoro tenggelam.

“Sejak itu, setiap musim hujan rasanya hati berdebar-debar,” lanjutnya.

Karena belum mengenal dekat bagaimana perilaku Bengawan Solo, membuat Suyoto teringat pada larut malam berunding untuk mengenal sungai terpanjang di Pulau Jawa dengan Balai Besar Bengawan Solo. Sehingga, membuat Pemkab  Bojonegoro memonitor tidak hanya bendungan Wonogiri tetapi juga wilayah lainnya.

“Kita yakin betul kapan terjadi siaga hijau, dan sumbangannya darimana, kita selalu monitor,” tegasnya.

Oleh sebab itu, semua jajaran Pemkab termasuk Muspida, media massa diajak serta melihat bendungan yang dibangun di era Pemerintahan Presiden Soeharto, untuk bisa menghayati betapa Bengawan Solo memiliki arti strategi hidup dalam sisi kebencanaan.

Tidak hanya itu, Suyoto memaknai Bengawan Solo menjadi hal yang luar biasa karena surplus 430 ton gabah sumbangan terbesar dari sana. Ketika petani bisa menanam padi di saat yang tepat, banjir tidak menanam, tapi diundur, kemudian jadi aman sehingga bisa panen besar di Kecamatan Kanor pada Januari lalu.

“Oleh karena itu, ada koneksi antara Bojonegoro dan Wonogiri itu penting karena untuk mengatur sirkulasi air ini,” imbuh mantan dosen Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Apakah mungkin, ada pengaturan ke depan sehingga Bengawan Solo tidak ekstrim dalam pengurangan airnya di musim kemarau dan berlebih di musim penghujan.

“Itu yang akan kita tindak lanjuti kemudian,” tutup kandidat Sekjen PAN dalam Munas di Bali, Maret mendatang. (rin/*acw)

Leave a Comment