Share

PMI Siapkan 3 Desa Tangguh Bencana

‪Bojonegoro (Media Center) – Pelatihan Masyarakat Tangguh Bencana yang merupakan program Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) telah dibuka langsung oleh Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur, Soebagyo SW. Dalam Pembukaan pelatihan SIBAT Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk ini juga hadir Staf Ahli Bupati Bojonegoro, Suharto, perwakilan dari Kodim 0813 serta Polres Bojonegoro.

Program yang dilaksanakan atas kerjasama antara Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional dengan Zurich Insurance yang bermarkas di Swiss ini memiliki 21 Desa sebagai Pilot Project di Indonesia. Sementara itu, Kabupaten Bojonegoro mendapat jatah program di tiga desa yakni Desa Tulungrejo, Trucuk dan Sumbangtimun, Kecamatan Trucuk.

“Pelatihan pertama ini kita buka untuk Desa Tulungrejo, Trucuk. Selanjutnya nanti Desa Sumbangtimun dan Trucuk,” ujar Sukohawidodo, Kepala Markas PMI Cabang Bojonegoro usai pembukaandi MCM Resto, Kamis (12/3/2015).

Penentuan desa sasaran SIBAT ini, lanjut Suko, memang dipilih  yang merupakan daerah rawan banjir luapan Bengawan Solo. Nantinya, masing-masing desa sasaran program ini akan memiliki anggota tim SIBAT sebanyak 30 orang.

“Kecamatan Trucuk ini keseluruhan terdampak banjir Bengawan Solo. Jadi sitidaknya nanti ada 90 anggota SIBAT untuk melakukan tindakan mitigasi, evakuasi hingga dapur umum,” lanjutnya.

Sementara menurut keterangan dari Ridwan Sobri, salah satu staf Penanggulangan Bencana PMI Pusat, untuk kegiatan SIBAT pada program tahun 2015 ini, Indonesia menerima dana sebesar Rp 50 Miliar. Dana ini digunakan untuk pelatihan SIBAT di 21 desa dan alokasi pembangunan.

“70% dari dana ini untuk masyarakat, sementara 30% sisanya untuk pembangunan PMI dan melengkapi apa yang dibutuhkan untuk mitigasi bencana,” ujar Ridwan.

Ridwan mengatakan, tak hanya pelatihan, ada kemungkinan nanti akan ada usulan pembangunan yang mendukung untuk langkah mitigasi bencana. Contohnya adalah menyediakan lokasi evakuasi atau pengungsian.

“Saat ini masyarakat Tulung dan sekitarnya enggang mengungsi ke Ebaga karena lokasinya terlalu jauh. Kalau nanti disetujui, rencananya warga meminta ada peninggian lapangan agar bisa digunakan sebagai lokasi mengungsi,” tukasnya.(Lya)

Leave a Comment