Share

Polres Bojonegoro Gelar Deklarasi Anti Hoax

Bojonegoro, 23/3 (Media Center) – Untuk memerangi berita hoax dan ujuran kebencian yang seringkali menyebar melalui media sosial (medsos) Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu S Bintoro menggelar Pos Jago atau Polisi Sambang dan Jagongan bersama Forum Medsos Bojonegoro, Jumat (23/3/2018).

Perwakilan Forum Medsos Bojonegoro, Yanuar Panji Abadi, mengaku siap terlibat langsung dalam memerangi penyebaran berita bohong atau hoax, ujaran kebencian dan isu sara yang disebarkan melalui media sosial khususnya facebook.

“Senang sekali bisa terlibat langsung bersama Polisi untuk memerangi hoax di media sosial,” ucap Yanuar.

Dia berharap, warganet atau netizen dapat berperan lebih aktif, dalam membantu memerangi penyebaran berita bohon atau hoax, ujaran kebencian dan isu sara.

“Apabila diketahui adanya postingan berita bohong atau hoax, admin dapat langsung melakukan tindakan, baik itu menghapus postingan maupun memblokir member yang memposting berita bohong tersebut”, tambah Yanuar.

Sementara, Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu S Bintoro, menyampaikan, dalam kegiatan Pos Jago, sekaligus akan melaksanakan Deklarasi Anti Hoax, bertujuan menciptalan pemilu damai di Bojonegoro.

“Kegitan ini merupakan wujud kebersamaan dan silaturrahmi dengan warganet atau netizen yang ada di Bojonegoro,” tutur Kapolres.

Kapolres menuturkan bahwa saat ini di Jawa Timur sedang berlangsung pilkada serentak, termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Jangan sampai karena adanya perbedaan dukungan, nantinya dapat menimbulkan konflik atar warga atau kelompok.

“Walau beda dukungan, mari sama-sama kita ciptakan pilkada yang aman, sukses dan lancar,” pesan Kapolres.

Pilkada saat ini, atau pilkada zaman now, tantangannya cukup berat. Ada upaya-upaya untuk memecah belah bangsa. Modus operandinya dengan menyebarkan berita bohong atau hoax, penyesatan dan memanipulasi informasi.

Kapolres mencontohkan, saat ini ada upaya-upaya untuk menyebarkan berita bohong atau hoax media sosial, diantanya tentang beredarnya berita penyerangan kyai dan kebangkitan PKI.

“Dengan disebarkannya berita tersebut secara viral, tentunya menjadi tidak nyaman dan dapat menggangu situasi kamtibmas”, jelas Kapolres.

Kapolres menjelaskan, berdasarkan data kepolisian, dari 46 kasus penyerangan kyai diseluruh Indonesia, hanya 3 kasus yang benar. Sementara beredarnya video PKI bawa senjata, video tersebut bukan terjadi di Indonesia, namun itu terjadi di Filipina.

“Produk hoax dan ujaran kebencian telah dipergunakan sebagai alat provokasi dan propaganda, oleh pihak-pihak tertentu, namun saat ini, sudah banyak pelaku yang ditangkap oleh aparat kepolisian,” pungkasnya.(*dwi/mcb)

Leave a Comment