Share

PT ADS Fokuskan Blok Cepu dan JTB

Bojonegoro (Media Center) – Direktur Utama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di bidang Partisipasi Interest (PI) PT Asri Dharma Sejahtera (ADS), Ganesa Harry Askari, mengungkapkan akan  fokus pada pengembangan Lapangan Banyuurip dan unitisasi  Lapangan Gas Jambaran -Tiung Biru ( JTB) di Kabupaten Bojonegoro.

“Kami akan fokus pada proyek besar yaitu  pengembangan  unitisasi lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru,” jelasnya.

Dia menjelaskan, dengan adanya pengembangan ini, dipastikan yang dikeluarkan akan cukup besar. Sehingga, pada pertengahan tahun 2013 ini PT ADS akan segera melakukan rapat anggaran

“Dan kami berharap di tahun 2017 triwulan ketiga sudah mulai produksi,” imbuhnya.

Dia mengatakan, pada awal bulan Mei 2013 lalu, dilakukan pertemuan di Surabaya yang dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) selaku operator Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru beserta  semua pihak yang berkaitan dengan proyek tersebut.

“Waktu itu, SKK Migas mempresentasikan dan menentukan operator Jambaran dan Tiung Biru adalah PEPC,” tukasnya.

Dia mengungkapkan untuk pola bagi hasil dalam pengelolaan participating interest (PI) atau penyertaan modal, nantinya pihaknya akan mengikuti prosedur, dimana sesuai agenda ada kerjasama dengan 3 BUMD yaitu Jawa Timur, Blora dan Jawa Tengah.

“Kita kan porsinya paling besar, tapi meskipun begitu kita ini digabung dan dianggap satu kesatuan yang sepuluh  persen itu, sehingga kita kan ngikut ya. Exxon Mobil kan 45%,, PEPC 45%, jadi ya manut sajalah,” ungkapnya.

Dia tegaskan, jika pada Participating Interest (PI) 10 persen Blok Cepu berlaku untuk minyak maupun gasnya. Karena selama itu ada di Blok Cepu entah itu gas ataupun minyak prinsipnya sama.

Ganesha mengatakan, untuk mempersiapkan strategi dalam keterlibatan lapangan gas ini belum direncanakan secara pasti. Karena Bojonegoro adalah pemegang PI yang minoritas dalam segi persentase  terpaksa harus mengikuti aturan.

“Karena secara teknis, operatorlah yang melaksanakan, kewajiban kita hanya nyetor kebutuhannya saja,” tandasnya.

Tapi jika sudah beroperasi dan dapat mencapai 165 ribu barel per, justru Bojonegoro akan mendapatkan keuntungan. Terlebih jika sebelum 5 tahun berselang sudah bisa mendapatkan penghasilan.

“Kalau sekarang lebih banyak pengeluaran dibanding pendapatan,” terangnya. (rin/*acw)

Leave a Comment