Share

Puji Susanto Kembangkan Bisnis Keripik Tempe, Berharap Produknya Sampai ke Luar Daerah

Bojonegoro, MediaCenter- Puji Susanto (35) tak pernah putus asa. Warga Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro ini mengembangkan usaha keripik tempe dengan modal nekat. Kini ia menargetkan bisa mengembangkan pemasaran produknya hingga ke luar daerah.

Puji menceritakan, ia mulai merintis usaha sejak 2013 silam bersama sang istri tercinta.  Bisnis yang digelutinya, berawal dari coba-coba memproduksi keripik tempe saat mendapatkan oleh-oleh saudara dari Malang. Ternyata saat menirunya mampu menarik perhatian masyarakat sekitar Dengan label keripik tempe “Lek Ja’im” ini ia terus memproduksi keripik dan hasilnya lumayan. Ia mampu meraup laba setiap harinya Rp150.000 sampai Rp200.000.

“Ada pekerja migas dari Pad B Lapangan Sukowati yang beli di tempat saya untuk dibuat oleh-oleh, mereka banyak dari luar Bojonegoro,” tukasnya.

Puji berharap bisa mendapatkan bantuan modal untuk menambah peralatan seperti alat pres. Namun meski dengan keterbatasan alam, pria berambut ikal tersebut pantang menyerah.

“Saya terus berusaha untuk mendapatkan inovasi agar dagangan keripik tempe ini bisa berkembang,” tambahnya.

Saat ini, para peminat keripik tempe miliknya masih satu desa dan sekitarnya. Belum menjangkau supermarket atau daerah lain. Kebanyakan, langganan keripik tempe Lek Jaim dibuat oleh-oleh atau sekedar camilan di rumah. Dia berharap, keripik tempe buatannya bisa merambah daerah lain.

“Kalau ramai itu masuk bulan Ramadhan atau lebaran, produksinya bisa dua kali lipat dari hari biasa,” kata pria berperawakan kurus ini.

Untuk memproduksi keripik tempe setiap harinya, Puji, membutuhkan kacang kedelai 10 kilogram untuk dijadikan tempe setengah jadi atau saat baru ditaburi ragi. Kedelai setengah jadi itu, kemudian diwadai plastik dengan bentuk bulat memanjang berukuran 60 centimeter.

“Kemudian dipotong bulat tipis, lalu dicampur air berbumbu setelah itu baru digoreng,” imbuhnya.

Untuk kemasan, Puji mengaku membuat sesuai pesanan. Mulai kemasan berisi 1 Kg, 1/2 Kg, 1/4 Kg, sampai 10 bijian yang diwadai plastik kecil-kecil. Harganya pun menyesuaikan ukuran. Ada yang Rp25.000 dan ada yang Rp10.000.

“Alhamdulilah, bisa menambah masukan agar dapur tetap mengepul,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Agus Hariana, mengaku, telah mensosialisasikan Kartu Pedagang Produktif (KPP) bagi para pelaku IKM di seluruh desa. Pihaknya mentargetkan 5.000 pedagang di Bojonegoro bisa mendapatkan manfaat dari KPP tersebut.

“Data yang masuk ada ratusan pedagang, pastinya saya lupa,” tukasnya.

Dia mengatakan, sebelum para pedagang menerima KPP, para pedagang harus mendaftar sesuai form yang disediakan Pemkab.

Setelah mendaftar, lanjut dia, tim dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bakal memverifikasi administrasi dan mengecek fisik bentuk dagang para pedagang.

“Setelah verifikasi dan dinyatakan layak, maka akan diberikan KPP,” ujarnya menjelaskan.

Artinya, para pedagang yang mendaftar akan diverifikasi. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menjamin akses kemudahan daftar bagi para pedagang.

“Karena memang program ini untuk memberdayakan usaha mikro,” ucapnya.

Sementara, akses permodalan yang bisa diakses para pedagang kurang lebih sebanyak Rp25 juta dengan bunga ringan 0,5 persen perbulan.

“Kami berharap KPP ini digunakan sebaik mungkin dalam mengembangkan usaha para pedagang,” pungkasnya.  (Rin/NN)

Leave a Comment