Share

Selain Mengajar, Juga Harus Berikan Terapi pada Siswa

Bojonegoro (Media Center) – Program pendidikan Inklusif di Kabupaten Bojonegoro terus digalakkan. Bahkan, pada tahun lalu, Bojonegoro mendeklarasikan sebagai Kabupaten Inklusif dengan melayani pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah reguler yang telah menerapkan pendidikan inklusif.

Tercatat ada sebanyak 88 lembaga pendidikan yang telah menerapkan pendidikan inklusif. Dari 88 lembaga ini, diantaranya 53 Sekolah Dasar (SD), 24 Sekoleh Menengah Pertama (SMP), 6 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 5 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menurut Supri, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan, penerapan pendidikan inklusif ini tak segampang yang dibayangkan. Sekolah reguler yang ditunjuk tak bisa memberikan pendidikan optimal bagi ABK.

“Untuk menangani ABK diperlukan keterampilan khusus. Selain mengajar, guru juga harus memberikan terapi pada siswa ABK,” terangnya saat ditemui kanalbojonegoro.com.

Pemberian terapi ini, lanjut Supri, dilakukan secara intensif. Ia mencontohkan, di sekolah yang dipimpinnya, pembelajaran hanya dilakukan antara 2 hingga 3 jam. Selanjutnya, masing-masing siswa akan diterapi secara intensif.

“Misalnya untuk tuna rungu mendapat terapi bicara yang dilakukan seusai jam belajar,” imbuhnya.

Selain itu, di SLB memiliki fasilitas yang tak dimiliki oleh sekolah reguler maupun inklusif. Seperti ruang terapi khusus yang berupa kamar-kamar kecil hingga alat pengukur bagi tuna rungu.

“Yang paling penting adalah tenaga guru. Untuk menangani ABK diperlukan guru khusus dan memang basis pendidikan adalah pendidikan luar biasa, sementara guru di sekolah lain hanya menjalani diklat inklusif,” tukasnya.

Meski masih memiliki banyak kekurangan, pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan hak pendidikan bagi seluruh anak Indonesia. Selain lantaran terbatasnya jumlah dan daya tampung SLB, pendidikan inklusif juga menjadi solusi bagi orang tua yang merasa enggan untuk menyekolahkan anaknya di SLB.

“Memang selama ini kendala penanganan ABK adalah pada orang tua yang malu jika putra-putrinya bersekolah di SLB. Padahal, kita bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh para siswa luar biasa ini,” pungkas Supri. (lya/*acw)

Leave a Comment