Share

Situs Perahu Kuno di Desa Padang Rusak Parah

Kondisi situs perahu kuno di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro semakin memprihatinkan. Setelah tak terurus selama bertahun-tahun, perahu yang ditemukan pada tahun 2004 ini telah hancur.

Bojonegoro (Media Center) – Kondisi situs perahu kuno di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro semakin memprihatinkan. Setelah tak terurus selama bertahun-tahun, perahu yang ditemukan pada tahun 2005 ini telah hancur.

Lokasi yang berada di tengah sawah tanpa adanya perlindungan bangunan beratap mempercepat proses kerusakan perahu akibat cuaca. Selain itu, pagar tembok yang mengelilingi perahu ini telah hancur.

Informasi pada awal penemuan dan pengangkatan perahu pada tahun 2007 masih dapat dilihat bentuk perahu. Namun kini kondisi kayu-kayu telah rontok dan terlepas dari ikatan yang semula. Sehingga tidak membentuk perahu lagi, melainkan bilah – bilah kayu yang terlepas dari kerangka bentuk perahu.

Kondisi ini sangat disayangkan dan mendapat perhatian dari Tim Pendaftaran Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (TAGARA) Kabupaten Bojonegoro. Disampaikan Novi Bahrul Munib, anggota TAGARA Bojonegoro, pihaknya telah mengajukan nota dinas untuk menyelamatkan salah satu cagar budaya yang dimiliki Kabupaten Bojonegoro ini.

“Karena perahu ini diduga telah berusia ratusan tahun dan menyimpan sejarah pelayaran di Bengawan Solo, maka sangat penting bagi penelitian sejarah Nasional Indonesia,” jelasnya.

Hingga kini, menurutnya ada berbagai upaya yang bisa dilakukan. Diantaranya adalah koordinasi dengan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan terhadap Situs Perahu Kayu Padang, rekonstruksi ulang hingga membangun kembali lokasi penyimpanan sisa-sisa perahu kuno ini dilengkapi dengan cungkup dan sesuai penanganan artefak perahu kayu kuno guna kelestariannya.

“Jika belum sanggup melaksanakan sesegera mungkin bangkai perahu ditutup atau diurug tanah agar tidak menjadi pemandangan yang memperihatinkan bagi wisatawan, pemerhati sejarah, dan masyarakat Kabupaten Bojonegoro,” pungkasnya.(**mcb)

Leave a Comment