Share

Sungai Bengawan Solo Surut Pemkab Tetap Waspada

Meski kondisi terpantau turun namun Pemkab tetap mengintensifkan pemantauan kondisi. Demikian seperti yang disampaikan oleh Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro, Hari Kristianto, Senin (22/12) pagi tadi.

Bojonegoro (Media Center) – Pukul 06.00 WIB tadi Bojonegoro memasuki Siaga I karena ketinggian air di papan duga Sungai Bengawan Solo di TBS menyentuh angka 13.06 Peilschal. Namun pukul 09.00 pagi permukaan air di Bengawan Solo menunjukkan penurunan menjadi 12.98 peilschal. Meski kondisi terpantau turun namun Pemkab tetap mengintensifkan pemantauan kondisi. Demikian seperti yang disampaikan oleh Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro, Hari Kristianto, Senin (22/12) pagi tadi.

Dituturkan Kabag Humas dan Protokol , ketinggian permukaan air di Sungai Bengawan Solo sejak kemarin terus menunjukkan trend naik berdasarkan data yang dihimpun dari Pusdalop Satlak BPBD Kebupaten Bojonegoro sejak pukul 03.00 Dini hari tadi ketinggian air di Bojonegoro memasuki siaga I dan mencapai puncak pada pukul 06.00 WIB dimana ketinggian 13.06 peilschal. Dijelaskan untuk wilayah kota sudah memasuki Siaga I yakni dimana ketinggian air berada pada angka 13.01 Peilschal di papan duga Taman Bengawan Solo pada pukul 03.00 dini hari tadi. Namun berdasarkan data dari daerah hulu air cenderung mengalami penurunan. Hal ini dimungkinkan karena hujan tidak terjadi di daerah hulu ataupun hujan dalam intensitas yang ringan. Menurut Hari Kristianto, sejak beberapa hari lalu Pemkab Bojonegoro melalui Pusdalop Satlak BPBD senantiasa memantau ketinggian air di sungai bengawan solo. Sehingga cepat untuk menginformasikan kepada masyarakat.

Sementara itu Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto Msi melalui pesan di BBM nya menyampaikan bahwa bagi sebagian warga yang bermukim di bantaran sungai bengawan solo banjir adalah hal rutin yang terjadi setiap memasuki musim penghujan. Bagi mereka banjir adalah sesuatu yang lumrah terjadi, oleh karenanya tempat hunian, infrastruktur dan pola hidup disesuaikan dengan siklus musiman. Saat banjirpun sepanjang masih dapat bertahan mereka akan lebih memilih hidup ditempatnya walaupun air tergenang hingga selutut. Bagi masyarakat Bojonegoro mengungsi adalah pilihan terakhir manakala air luapan sungai bengawan solo sudah sebatas dada. Keadaan inipun sampai kini masih berlaku , sehingga intrastruktur yang disiapkan semacam Taman Evakuasi Banjir Bahagia (Ebaga) yang didipersiapkan untuk zona pengungsian belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Tidak hanya itu upaya pemerintah dalam rangka menyiapkan mereka kebutuhan para pengungsi. Pemerintah dengan relawan tetap siap melayani berbagai kebutuhan yang tidak mungkindiwujudkan warga tergenang secara mandiri dan pertolongan khusus sesuai kebutuhan dengan standart kebencanaan. Tidak hanya itu saja, banjir bagi sebagain masyarakat yang selama ini bermata pencaharian sebagai pembuat batu bata, adalah anugerah luar biasa. Karena banjir membawa bahan baku batu bata yang memang dibutuhkan oleh para pengrajin.

Berdasarkan pemantauan ketingian air dipapan duga yang terpasang di Taman Bengawan Solo (TBS) sejak pukul 03.00 WIB menunjukkan ketinggian 13.01 Peilschal atau sudah masuk Siaga I. Sampai dengan pukul 06.00 WIB kenaikan masih saja terjadi pada angka 13.06 Peilschal. Sementara itu ketinggian air yang terpantau di Karang nongko pada pukul 03.00 WIB diangka 26.00 atau masih dibawah siaga, sedangkan pada pukul 06.00 WIB ketinggian air di karangnongko mengalami penurunan menjadi 25.46 Peilschal. Sementara itu untuk kondisi yang terpantau di bendung gerak juga masih dibawah siaga yakni pukul 03.00 WIB diangka 14.70 peilschal dan pukul 06.00 WIB menurun menjadi 14.60 peilschal.(humas/**mcb)

Leave a Comment