Share

Suwandi Adisuroso, Pegawai Pajak yang Gemar Menulis Sastra Jawa

Bojonegoro, Media Center – Profesi yang digeluti Suwandi Adisuroso memang tidak berkaitan langsung dengan dunia sastra. Kesehariannya adalah sebagai pegawai Direktorat Kantor Pajak yang terkesan kaku. Namun, ternyata ia adalah seorang penulis buku sastra, terutama sastra jawa. Suwandi, begitu ia disapa, produktif menulis.

Pada Mei lalu, Suwandi meluncurkan buku terbarunya berjudul Jagad-jagad Pakeliran (PSJB). Buku tersebut banyak mendapat apresiasi dari pembaca. “Saya maksudkan sebagai fragmen tertulis atas pangung-panggung sosial yang ada di tengah masyarakat kita dengan nilainya yang dapat kita petik. Di sana ada tentang keluarga, religiusitas, nasionalisme, sosial budaya dan hiruk pikuk dunia politik yang ada di sekitar kita,” tuturnya.

Suwandi yang tinggal di Purwosari ini memang bukan penulis baru. Ia memulai tertarik dengan dunia sastra sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, ada majalah dinding yang setiap minggu siswa diharapkan mempublikasikan karya-karyanya. “Dari sinilah saya mulai belajar menulis, terutama puisi dan geguritan. Khususnya tentang geguritan, saya dibesarkan di lingkungan yang bersinggungan langsung dengan aktivitas budaya Jawa sehingga hal ini menjadi wahana yang sangat kuat bagi saya untuk belajar tentang sastra Jawa, terutama geguritan,” terangnya.

Sebelumnya, tahun 2018 ia menerbitkan kumpulan puisi berjudul Burung-burung Penjual Angin. Selain menulis sastra bahasa jawa ia juga menulis sastra bahasa Indonesia. Ia menggemari puisi-puisi WS Rendra dan Sapardi Djoko Damono untuk puisi bahasa Indonesia. “Untuk geguritan, banyak yang mengispirasi saya. Seperti Bapa JFX Hoeri, Bapa Yusuf Susilo Hartono, Bapa Nono Warnono dan Bapa Gampang Prawoto,” katanya.

Terkait profesinya tak berkaitan langsung dengan sastra, Suwandi punya jawaban sendiri. Menurut dia, segala sesuatu itu sebenarnya tak lepas dari seni. Sesuatu hal yang sifatnya rigid, untuk pengelolaannya perlu juga ada sentuhan seni supaya aktualisasinya dapat berjalan secara baik serta berhasil secara indah.

“Karena seni itu sendiri identik dengan keindahan. Jadi dua hal ini dapat berjalan seiring dan saling melengkapi. Saya menulis kebanyakan di sela waktu senggang, terutama di waktu malam di mana suasana tenang lebih banyak kita dapatkan sehingga dapat membantu proses menulis tersebut,” kata Suwandi yang aktif di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB).(NN)

Leave a Comment