Share

Tingkatkan Produksi Salak Bojonegoro dengan Irigasi Tetes

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kapas, Yuzeriza menambahkan, selain dapat meningkatkan produksi, sistim irigasi tetes ini juga dapat meningkatkan kualitas buah salak. Mulai dari buah menjadi lebih besar dan rasanya manis.

Bojonegoro (Media Center) – Berbagai terobosan terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan nasional. Salah satunya adalah meningkatkan semua hasil pertanian maupun perkebunan untuk mengangkat kesejahteraan petani. Kali ini yang dilakukan adalah menerapkan sistim irigasi tetes (deep irigasi) yang dilaksanakan Dinas Pertanian Bojonegoro bekerja sama dengan Institute Pertanian Bogor (IPB) dan Kelompok Tani Karya Tirta II Desa Tapelan, Kecamatan Kapas.

Saat ini sistim irigasi tetas dilaksanakan di lahan setengah hektar sebagai percontohan. Dalam irigasi tetes ini menggunakan peralatan yang sederhana dengan memanfaatkan air sumur. Yakni air dari sumur di pompa kemudian dialirkan melalui pipa primer kemudian salurkan ke pipa tersier sebelum menetes ke pohon salak yang ditanam.

Tim IPB, Zaenal Abidin mengatakan, penggunaan sisitim irigasi ini lebih efisien dan tepat sasaran. Karena air yang dimanfaatkan sesuai kebutuhan, tidak berlebihan yang bisa menganggu sumber air seperti saat musim kemarau seperti ini. Selain itu, air yang dialirkan 98 persen langsung mengena ke pohon salak yang ditanam dan bisa mengairi secara kontinyu.

“Pohon salak membutuhkan kelembapan. Jadi dengan sistim irigasi tetes ini kelembapan di sekitar pohon salak yang ditanam selalu terjaga,” kata Zaenal saat menunjukkan sistim irigasi tetes di lahan salak yang dijadikan percontohan.

Menurut Zaenal, dengan sistim irigasi tetes ini petani tak perlu menyemprotan pupuk ke pohon salak. Melainkan pupuk itu bisa disalurkan melalui aliran air di pipa.

“Dengan kelembapan yang terjaga akan meningkatkan produksi salak. Peningkatannya bisa 20 persen dibanding dengan menggunakan irigasi manual,” tegas dia.

“Kalau biasanya satu pohon salak bisa menghasilkan 5 sampai 10 kilogram per tahun, melalui sistim ini bisa meningkat menjdi 15 sampai 20 kilogram per pohon per tahun,” lanjut Zaenal.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kapas, Yuzeriza menambahkan, selain dapat meningkatkan produksi, sistim irigasi tetes ini juga dapat meningkatkan kualitas buah salak. Mulai dari buah menjadi lebih besar dan rasanya manis. “Kita sudah melakukan uji coba dengan menanam buah salak yang kita aliri air menggunakan botol air menireal, hasilnya sangat berbeda. Buahnya lebih besar dan manis,” sambung Reza.

Ditambahkan, untuk sementara ini sistim irigasi tetes ini akan diterapkan di lahan seluas setengah hektar sebagai percontohan. Namun rencana kedepan akan dikembangkan ke seluruh areal salak yang ada di wilayah Kecamatan Kapas yang berada di beberapa desa seperti Wedi, Kalianyar, Tanjungharjo, Tapelan, Padang Mentoyo, Bendo, Bangilan, dan Sembung.

“Sistim irigasi ini untuk setengah hektar lahan bisa mengairi 430 pohon salak dengan biaya pembuatan sekira Rp40 juta. Itu untuk membeli mesin pompa, jaringan pipa primer dan sekunder,” pungkas Reza.(**numcb)

Leave a Comment