Share

UGM Akan Bantu Pertanian di Bojonegoro

Setyo mengungkapkan, pada 2014 lalu melalui Wakil Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM, Prof.Dr. Irfan D. Prijambada, M.Eng., menyampaikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di kawasan Migas, Bojonegoro dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi lokal yang ada. Misalnya dengan mengembangkan budidaya tanaman pangan dan herbal di kawasan hutan.

Bojonegoro (Media Center) – Kabupaten Bojonegoro memiliki luas wilayah 230,706 hektar (Ha) dan sebanyak 40,15% didominasi wilayah hutan, lalu 32,58% merupakan lahan persawahan, dan sisanya merupakan tanah kering, perkebunan dan lainnya. Hanya saja, dari pemanfaatan tanah sawah ini setiap tahunnya mengalami penyusutan tajam akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan industri sektor migas.

“Saat ini setidaknya 1.000 hektar lahan pertanian sudah beralih fungsi menjadi industri minyak dan gas. Hal ini pasti akan terus meningkat karena akan banyak industri migas yang masuk,” kata Asisten II, Setyo Yuliono.

Kondisi tersebut menurut Setyo sangat mengancam keberlanjutan usaha pertanian di kawasan industri migas. Sehingga diperlukan strategi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan agar bidang pertanian kedepan tidak semakin terpinggirkan oleh pengembangan usaha bidang migas.

“Kalau banyak industri migas yang masuk, pertanian kedepan akan seperti apa? Untuk itu bagaimana agar dengan lahan yang semakin sempit, potensinya bisa dimaksimalkan,” ujarnya.

Ia menyampaikan, dengan adanya permasalahan tersebut, Universitas Gajah Mada (UGM) telah membantu Pemkab dan masyarakat Bojonegoro untuk menemukan jalan keluar terbaik.

Setyo mengungkapkan, pada 2014 lalu melalui Wakil Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM, Prof.Dr. Irfan D. Prijambada, M.Eng., menyampaikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di kawasan Migas, Bojonegoro dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi lokal yang ada. Misalnya dengan mengembangkan budidaya tanaman pangan dan herbal di kawasan hutan.

“Sebesar 43 persen wilayah Bojonegoro itu hutan. Pemberdayaan masyarakat dengan Lembaga Masyarakat Hutan Desa baru dilakuakn seluas 23 hektar di KPH Dander. Jadi masih ada potensi luasan 96.000 hektar yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan tanaman seperti padi, empon-empon, dan porang. Hanya saja selama ini masih terkendala pada teknik pengeringan produk herbalnya,” lanjutnya.

Kedepan UGM akan mengirimkan KKN Mahasiswa di lima kecamatan yaitu Temayang, Dander, Ngasem, Ngambon, Tambakrejo. Hal itu dilakukan tidak hanya untuk pengembangan teknologi pengering empon-empon, tetapi juga pelaksanaan program pengembangan tanaman pisang, diversifikasi produk olahan pisang, dan pembibitan kambing. Selanjutnya pengembangan ternak ayam, budidaya jati unggul, dan agroforestry optimal atau penguatan kelembagaan lokal.

“Kami sangat berterimakasih dengan kepedulian tersebut, semoga bisa bermanfaat,” pungkasnya.(re/**mcb)

Leave a Comment