Share

Wah…Produksi Salak di Bojonegoro Membeludak

Bojonegoro (Media Center) – Produksi salak di sejumlah desa di Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), pada panen raya tahun ini membeludak meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu dengan harga rata-rata berkisar Rp30.000-Rp40.000/seratus biji.

“Harga rata-rata salak sekitar Rp30.000/seratus biji, tapi ada juga yang hanya Rp20.000/seratus biji untuk salak yang agak kecil,” kata seorang pedagang salak Rukayah (45) yang sedang menjual salak di depan rumahnya di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Sabtu.

Menurut Rukayah, para petani salak hampir semuanya memasarkan salaknya di depan rumahnya, atau membentuk kelompok sendiri-sendiri di tempat tertentu bersama pedagang lainya, selain menjual salaknya di Pasar Desa Tanjungharjo.

“Pembelinya pedagang salak untuk dijual di lain tempat, bahkan ada pembeli yang datang berombongan dengan bus,” jelas Rukayah, yang menjual salak ditemani pedagang salak yang masih sedesa Dasriah (48).

Dimintai konfirmasi, Ketua Pedagang Salak Bojonegoro Achmadi (68) menjelaskan produksi salak di sejumlah desa, mulai Desa Wedi, Tanjungharjo, Bangilan, Padangmentoyo, Kecamatan Kapas, tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu karena iklim mendukung.

“Kemarau tahun ini tidak terlalu kering, sehingga tanaman salak petani masih bisa memperoleh air dengan cukup, sehingga produksinya bagus,” jelasnya.

Menurut dia, panen raya di wilayah setempat berlangsung sejak Nopember lalu dengan perkiraan Januari 2014 sudah selesai.
“Hanya saja produksinya setelah ini jumlahnya terbatas. Harganyapun akan lebih tinggi,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan p anen raya salak biasanya berlangsung lagi Juni-Juni dengan jumlah produksi yang tidak sebanyak panen raya Nopember-Januari.

Di desa penghasil salak tersebut, katanya, hampir semua warganya memiliki pohon salak di kebun atau di pekarangan rumahnya.
“Kalau jumlahnya ya ada yang sedikit ada juga yang banyak. Seperti saya punya kebun salak seluas 1 hektare,” ujarnya.

Meski demikian, mengaku sering keluar kota, seperti Jakarta, Surabaya atau kota lainnya untuk menjual salaknya dengan harga jauh lebih mahal.

“Saya baru pulang menjual salak ke Jakarta dengan harga Rp300.000/seratus biji jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga salak di tempat ini,” katanya, menegaskan.

Achmadi juga pedagang salak salinnya Dasriah meyakinkan salak produksi di daerahnya jauh lebih enak dibandingkan dengan salak produksi daerah lainnya karena memiliki aneka rasa, mulai manis, “masir”, segar dan kadang-kadang ada rasa kecutnya.

“Rasa salaknya tidak monoton yang membuat pembeli suka,” ucap Achmadi.

Lokasi desa penghasil salak di daerah setempat tidaklah sulit, karena hanya sekitar 3 kilometer dari Kota Bojonegoro tidak jauh dari jalan raya Surabaya-Bojonegoro. Apabila ditempuh melalui jalan raya Surabaya-Bojonegoro, sebelum masuk Kota Bojonegoro ada jalan ke arah selatan melintas rel kereta api (KA).

Leave a Comment