Share

Wartawan Bojonegoro Surati Presiden dan Panglima TNI

Bojonegoro, 5/10 (Media Center) – Puluhan wartawan Bojonegoro, Jawa Timur, kembali menggelar aksi solidaritas tindak kekerasan yang dilakukan oknum TNI Yonif Para Raider 501 Madiun terhadap wartawan NetTv , Sony Misdananto, di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, Rabu (5/10). Aksi ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 71.

Para wartawan mendesak kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menuntaskan kasus kekearasan yang melibatkan oknum parjuritnya. “Panglima harus mengambilkan tindakan tegas. Proses hukum tetap harus ditegakkan,” tegas Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro, Anas Abdul Ghofur.

Pemukulan yang dilakukan oknum TNI terhadap wartawan Net TV yang sedang menjalankan tugas jurnalistik telah melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan dapat dikenakan ancaman pidana dua tahun penjara serta denda Rp500 juta.

“Dewan Pers juga harus turun tangan untuk menuntaskan kasus ini,” tandas Anas.

Kekerasan terhadap wartawan masih kerap terjadi di Indonesia. Seperti yang terjadi di Medan, oknum TNI AU menganiaya wartawan. Kemudian di Bangkalan, Madura, sorang oknum pegawai negeri sipil (PNS) juga memukul seorang wartawan.

“Kasus yang menimpa kawan kita di Madiun pada tanggal 2 Oktober kemarin menambah daftar panjang kekerasan kepada wartawan,” timpal Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bojonegoro, Sasmito Anggoro.

Dalam aksi ini para wartawan melakukan orasi sambil membentangkan poster berisi kecaman terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oknum TNI.

“Kami minta segala bentuk praktik kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan dihentikan. Jangan sampai kasus seperti ini terulang lagi,” pungkas Sasmito.

Usai berorasi, para wartawan menuju Kantor Pos Bojonegoro untuk mengirimkan surat kepada Presiden Jokowidodo dan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantio. Surat tersebut berisi permintaan agar kasus kekerasan yang menimpa wartawan di Madiun diusut sampai tuntas.(dwi/mcb)

Leave a Comment